Bank Dunia alias World Bank menyetujui dua pinjaman dengan total lebih dari USD 1 miliar alias Rp 17,92 triliun (kurs Rp 17.922) untuk membantu Bangladesh menghadapi gejolak pasar pupuk dunia serta memperkuat ketahanan pangan.
Dalam pernyataan nan dikirim melalui surat elektronik pada Sabtu (27/6), Bank Dunia menyebut pinjaman senilai USD 300 juta bakal digunakan untuk membiayai impor 600 ribu ton pupuk menjelang musim tanam padi nan berjalan dari Juli 2026 hingga April 2027.
Musim tanam tersebut menyumbang sekitar 90 persen dari total produksi beras Bangladesh. Mengutip Bloomberg, Bangladesh mengimpor lebih dari 85 persen kebutuhan pupuknya, sehingga negara tersebut sangat rentan terhadap gangguan pasokan global.
Sementara itu, sisa pinjaman sebesar USD 713 juta, nan disalurkan melalui skema tanggap darurat, dijadwalkan cair sebelum 30 Juni 2026.
Dana tersebut bakal digunakan untuk penyaluran support tunai bagi rumah tangga berpendapatan rendah, support mata pencaharian bagi upaya mikro dan kecil, serta pengadaan pasokan bahan bakar dan energi.
“Kenaikan nilai pangan, pupuk, dan bahan bakar akibat bentrok di Timur Tengah, ditambah ruang fiskal nan semakin sempit, telah memberikan akibat besar terhadap perekonomian Bangladesh, dengan petani mini serta masyarakat miskin dan rentan menjadi golongan nan paling terdampak,” kata Direktur Divisi Bank Dunia untuk Bangladesh dan Bhutan, Jean Pesme.
Tekanan terhadap kondisi fiskal Bangladesh semakin meningkat sejak pecahnya perang Iran pada Februari. Hal ini terjadi lantaran persediaan devisa negara tersebut tertekan akibat tingginya tagihan impor dan melambatnya pertumbuhan remitansi dari luar negeri.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·