
Banggar DPR (Foto: Okezone)
JAKARTA – Langkah Bank Indonesia (BI) pada mengawal pergerakan nilai tukar rupiah menuai sorotan dari Anggota Badan Anggaran (Banggar) DPR, Dolfie Othniel Frederic.
Dolfie menilai bahwa orientasi kebijakan bank sentral sejauh ini condong lebih konsentrasi pada peredaman gejolak alias volatilitas pasar harian, daripada menjaga agar perubahan rupiah betul-betul mencerminkan kondisi esensial ekonomi nasional.
Dolfie melayangkan kritik terhadap pendekatan moneter BI nan dianggapnya membatasi ruang mobilitas mata duit Garuda hanya pada rentang koridor plus-minus 5 persen.
Menurut kalkulasinya, pola pembatasan nan konstan tersebut menyimpan akibat laten berupa akumulasi depresiasi nilai tukar nan sangat dalam untuk jangka panjang.
Jika pelemahan tahunan di kisaran 5 persen tersebut terus dibiarkan berulang tanpa adanya pertimbangan fundamental, Dolfie memproyeksikan daya beli rupiah bisa tergerus hingga 25 persen dalam kurun waktu lima tahun, apalagi berisiko ambruk mendekati 50 persen dalam satu dekade.
"Kalau plus minus 5 persen berjalan selama lima tahun, sudah 25 persen dia terdepresiasi. Kalau 10 tahun, 50 persen (terdepresiasi). Kalau kita bandingkan nilai tukar rupiah kita 10 tahun nan lampau dengan sekarang cocok polanya lantaran BI menggunakan teori mengendalikan gejolak plus minus 5 persen," ujar Dolfie dalam rapat berbareng Banggar DPR, Rabu (17/6/2026).
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk pembaruan buletin terbaru setiap hari
Follow
Berita Terkait
Telusuri buletin finance lainnya
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·