Bamsoet Ingatkan RI Tak Boleh Lengah Sikapi Dinamika Konflik Iran-Israel

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Jakarta -

Anggota DPR RI Bambang Soesatyo, mengingatkan Indonesia tidak boleh lengah dalam menyikapi dinamika bentrok antara Iran dengan Israel. Meski saat ini telah terjadi gencatan senjata, situasi tersebut dinilai belum sepenuhnya mencerminkan stabilitas jangka panjang.

Dampak bentrok peperangan tetap berpotensi menjalar ke beragam sektor di Indonesia, mulai dari ekonomi, energi, hingga keamanan nasional, sehingga diperlukan kewaspadaan dari seluruh pemangku kepentingan.

"Indonesia kudu memandang gencatan senjata ini secara bening dan strategis. Gencatan senjata dalam perspektif intelijen geopolitik tidak bisa dimaknai sebagai tanda berakhirnya konflik. Itu lebih tepat dibaca sebagai jarak strategis untuk masing-masing pihak memperkuat posisi, mengisi ulang logistik, dan menyusun langkah berikutnya," ujar Bamsoet dalam keterangannya, Kamis (9/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bamsoet memaparkan, eskalasi bentrok Iran-Israel terus memicu kekhawatiran dunia. Data menunjukkan bahwa sepanjang periode awal 2026, ketegangan di area Timur Tengah telah menyebabkan gangguan signifikan terhadap jalur pengedaran daya dunia, khususnya di Selat Hormuz nan menjadi jalur vital bagi sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.

Harga minyak mentah bumi sempat melonjak di atas USD 95 per barel, sementara premi akibat pengiriman meningkat tajam akibat ancaman keamanan maritim. Dampak dari bentrok ini tidak berakhir pada sektor energi.

Ketidakpastian dunia telah menekan stabilitas pasar keuangan, memicu volatilitas nilai tukar, serta meningkatkan tekanan inflasi di banyak negara berkembang, termasuk Indonesia. Bank Indonesia mencatat adanya tekanan terhadap nilai tukar rupiah dalam beberapa pekan terakhir akibat sentimen dunia nan dipicu bentrok geopolitik.

Selain itu, sektor perdagangan juga terdampak, terutama mengenai kenaikan biaya logistik dan asuransi pengiriman internasional.

"Kita tidak boleh menganggap gencatan senjata sebagai akhir dari ketegangan. Justru dalam banyak kasus, fase ini menjadi titik paling krusial lantaran setiap tokoh nan terlibat perang sedang menyiapkan skenario berikutnya. Ini adalah realitas nan kudu kita pahami secara utuh," kata Bamsoet.

Ia menuturkan, dalam kerangka intelijen geopolitik, gencatan senjata sering kali digunakan sebagai instrumen untuk membangun narasi internasional nan menguntungkan masing-masing pihak.

Upaya diplomasi nan tampak di ruang publik seringkali melangkah beriringan dengan operasi penguatan posisi di belakang layar, baik melalui jalur militer, ekonomi, maupun pengaruh politik global.

"Gencatan senjata bisa menjadi perangkat untuk memanipulasi persepsi dunia. Satu pihak mau terlihat sebagai pembawa damai, sementara di saat nan sama mereka memperkuat posisi tawar untuk negosiasi berikutnya," ungkap Bamsoet.

Bamsoet menegaskan, Indonesia sebagai negara dengan posisi strategis di area Indo-Pasifik dan personil aktif beragam forum internasional seperti G20, kudu memperkuat kewaspadaan lintas sektor.

Pemerintah perlu memastikan ketahanan daya nasional tetap terjaga, memperkuat persediaan strategis, serta mengantisipasi potensi gangguan rantai pasok dunia nan bisa berakibat langsung pada stabilitas ekonomi nasional.

"Indonesia juga kudu memperkuat posisi non-blok nan aktif, menjaga kedaulatan kebijakan luar negeri, dan mengedepankan diplomasi tenteram tanpa kehilangan kewaspadaan strategis. Kita tidak boleh terseret dalam pusaran bentrok kepentingan global," pungkas Bamsoet.

(anl/ega)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News