Bamsoet Dukung Berburu Babi Hutan yang Rugikan Petani

Sedang Trending 2 minggu yang lalu

Jakarta - Anggota DPR RI sekaligus Ketua Umum Perkumpulan Pemilik Izin Khusus Senjata Api Beladiri Indonesia (PERIKSHA), Bambang Soesatyo alias Bamsoet, mendukung aktivitas berburu sebagai salah satu upaya pengendalian populasi babi hutan.

Menurut Bamsoet, keberadaan babi rimba di sejumlah wilayah telah menimbulkan keresahan bagi petani lantaran merusak lahan pertanian dan menakut-nakuti hasil panen.

Di beragam daerah, gangguan satwa liar terhadap lahan pertanian tetap menjadi persoalan berulang. Kondisi ini terutama terjadi di wilayah nan berbatasan dengan area rimba alias mengalami perubahan bentang alam.

Kerusakan tanaman akibat serangan babi rimba kerap membikin petani kehilangan sebagian, apalagi seluruh hasil panen dalam satu musim tanam.

"Kegiatan berburu babi rimba merupakan respons nyata terhadap keresahan petani nan selama ini menghadapi ancaman nyata dari meningkatnya populasi babi hutan. Ketika lahan pertanian rusak dan hasil panen menurun, nan terdampak bukan sekadar pendapatan petani, tetapi juga rantai pasok pangan masyarakat secara keseluruhan," ujar Bamsoet dalam keterangannya, Sabtu (23/5/2026).

Pernyataan tersebut disampaikan Bamsoet usai mengikuti aktivitas berburu babi rimba berbareng Jalu Hunter Club dan Ketua Umum Pengurus Persatuan Menembak Indonesia (PERBAKIN) Banten, Irjen Pol Nunung Syaifuddin, di Malimping, Lebak, Banten, Jumat (22/5).

Bamsoet menjelaskan ledakan populasi babi rimba bukan persoalan nan berdiri sendiri. Di beragam daerah, bentrok antara manusia dan satwa liar terus meningkat seiring perubahan penggunaan lahan, menyempitnya kediaman alami, serta bertambahnya sumber pakan di sekitar area pertanian.

Babi rimba dikenal mempunyai keahlian reproduksi tinggi dan bisa beradaptasi dengan perubahan lingkungan. Dalam kondisi tertentu, satu golongan babi rimba dapat berkembang sigap dan menyebabkan kerusakan dalam waktu singkat pada tanaman pangan.

Tanaman nan kerap terdampak antara lain padi, jagung, singkong, hingga hortikultura.

"Ketika petani sudah mengeluarkan biaya untuk bibit, pupuk, tenaga kerja dan menunggu masa panen berbulan-bulan, lampau hasilnya rusak hanya dalam beberapa malam lantaran serangan babi hutan, kita tidak bisa diam. Kegiatan berburu untuk mengendalikan populasi babi rimba kudu dilaksanakan secara berkala, profesional, sesuai ketentuan konservasi dan keamanan, sehingga betul-betul memberikan rasa kondusif bagi masyarakat dan menghasilkan faedah ekonomi nan nyata," kata Bamsoet.

Bamsoet juga mendorong aktivitas pengendalian populasi babi rimba diikuti langkah jangka panjang. Upaya tersebut dapat mencakup pemetaan wilayah rawan bentrok satwa, penguatan sistem pelaporan warga, pemanfaatan teknologi pemantauan area pertanian, serta edukasi kepada masyarakat mengenai tata kelola habitat.

Dengan begitu, pengendalian populasi tidak hanya menjadi tindakan sesaat, tetapi juga bagian dari kebijakan pengelolaan lingkungan dan pertanian nan berkelanjutan.

"Tujuan akhirnya mengurangi keresahan masyarakat, menjaga hasil panen tetap aman, meningkatkan produktivitas pertanian, dan memastikan petani dapat menikmati hasil kerja mereka secara lebih optimal. Ketika panen terjaga, kesejahteraan petani ikut meningkat dan ketahanan pangan wilayah juga menjadi lebih kuat," pungkas Bamsoet.

(ega/ega)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News