IHSG Diproyeksi Melanjutkan Penguatan Pekan Depan, Ini Faktor Pendorongnya

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Pengunjung melintas di depan layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jakarta, Jumat (10/4/2026). Foto: Muhammad Adimaja/ANTARA FOTO

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksi tetap bersambung menuju area hijau pada pekan depan. Pada penutupan perdagangan Jumat (12/6), IHSG ditutup naik 121 poin alias 2,07 persen ke level 6.007,656.

Chief Economist Bank Tabungan Negara (BTN), Myrdal Gunarto, menilai tren penguatan IHSG tetap berpotensi bersambung pada pekan depan setelah mencatat rebound kuat sepanjang pekan lalu.

Menurutnya, tindakan demonstrasi nan terjadi pada akhir pekan tidak memberikan akibat signifikan terhadap pasar lantaran berjalan relatif tertib dan tidak menimbulkan kekhawatiran nan berfaedah bagi investor.

“Jadi aspek pertama kenapa IHSG tetap bakal terus lanjut mengalami tren penguatan pada pekan depan, ialah lantaran adanya momentum dari rebound nan terjadi pada pekan lalu,” kata Myrdal saat dihubungi kumparan, Sabtu (13/6).

Selain itu, perbaikan sentimen dunia turut menopang pergerakan pasar, terutama lantaran meningkatnya angan terhadap meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah seiring adanya upaya perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran nan berpotensi membuka kembali Selat Hormuz.

Myrdal menambahkan, membaiknya kondisi tersebut turut mendorong penguatan indeks saham global. Di sisi lain, tekanan inflasi impor juga mulai berkurang seiring penguatan nilai tukar rupiah dan penurunan nilai minyak dunia.

“Jadi ini kan sebenarnya bagus juga buat negara nan statusnya net oil importer seperti Indonesia, terutama implikasinya adalah posisi fiskal nan diharapkan membaik jika rupiahnya menguat dan dari sisi nilai minyaknya juga menurun,” sebut Myrdal.

Faktor lain nan dinilai menarik bagi penanammodal adalah tetap banyaknya emiten nan bakal membagikan dividen dalam waktu dekat. Meski demikian, Myrdal mengingatkan kelanjutan penguatan IHSG tetap berjuntai pada keputusan kebijakan moneter global, terutama dari Federal Reserve AS dan Bank Indonesia.

“Kalau saya lihat sih IHSG bisa itu ke (level) 6.336 ya (pekan depan,” sebut Myrdal.

Pekerja melangkah di dekat layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (21/5/2026). Foto: Dhemas Reviyanto/ANTARA FOTO

Sementara itu, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesiac Nafan Aji Gusta, menilai penguatan IHSG belakangan ini merupakan respons psikologis nan positif dan wajar setelah adanya pertemuan antara DPR, Himbara, Danantara, dan sejumlah lembaga keuangan.

“Pasar merespons sigap komitmen para pemangku kebijakan untuk menjaga stabilitas pasar modal,” kata Nafan.

Meski demikian, Nafan mengingatkan volume transaksi saat ini belum sepenuhnya ditopang oleh arus masuk biaya asing. Karena itu, rebound nan terjadi tetap berkarakter teknikal dan condong sementara.

Ia menilai penguatan pasar saat ini lebih banyak didorong oleh tindakan bargain hunting berburu peralatan murah oleh penanammodal domestik dan lembaga lokal nan memanfaatkan kondisi saham nan sudah turun terlalu tajam.

“Untuk menjadi reversal nan berkelanjutan, maka kita kudu kelak konfirmasi masuknya biaya asing pada saham saham besar,” lanjut Nafan.

Ia pun menilai program buyback saham nan dilakukan sejumlah emiten, khususnya sektor perbankan, dapat memberikan support terhadap nilai saham dan membatasi akibat penurunan lebih dalam.

Untuk mencapai penguatan nan lebih berkelanjutan, pasar tetap memerlukan support dari perbaikan kondisi makroekonomi global, meredanya ketegangan geopolitik, serta keberlanjutan reformasi pasar modal nan dijalankan oleh Otoritas Jasa Keuangan, Bursa Efek Indonesia, dan Self Regulatory Organization.

“Karena Indonesia ini merupakan negara dengan market. Maksudnya itu kategori masing-masing market nan selalu diperhitungkan,” kata Nafan.

instagram embed
Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan