Relawan Posko Askar Kauny itu mendapatkan berita duka mengenai kepergian Calviano melalui koordinator pengungsian. Kondisi serba darurat serta trauma akibat gempa susulan nan terus terjadi membikin pihak family dan pengungsi diliputi kekhawatiran mendalam.
"Saat ini ada banyak penyintas lain nan kudu memperkuat menghadapi dingin, keterbatasan tempat tinggal, obat-obatan, serta kebutuhan dasar lainnya," tukasnya.
Sebelum meninggal dunia, Calviano sempat dilarikan ke RS Aeramo, kemudian dirujuk ke RS Bajawa akibat demam tinggi. Menurut keluarga, demam tersebut menyebabkan tubuhnya kaku dan mengalami kejang.
"Anak ini sebelumnya sehat dan sangat segar. Ia sakit lantaran terpapar dingin di pengungsian. Itulah nan membikin saya sangat terpukul," ujar Jack, salah satu personil family korban.
Jack mendesak pemerintah agar segera bertindak untuk menangani kondisi para pengungsi nan saat ini memperkuat tanpa tenda maupun akomodasi nan memadai.
"Kami minta support segera. Ini situasi nan serius. Korban meninggal baru berumur dua tahun. Ia jatuh sakit hanya lantaran kondisi keterbatasan di atas bukit, tanpa kelambu dan tanpa tenda. Sebagai keluarga, saya berbincang dengan duka nan mendalam atas kepergian keponakan saya ini," pungkasnya.
11 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·