
Bahlil: Harga Bioetanol Masih Kompetitif Dibanding BBM Nonsubsidi, Belum Perlu Dana Talangan (Foto: Okezone)
JAKARTA - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, pemerintah tetap menyusun formula insentif untuk mendukung penerapan program bioetanol nan ditargetkan mulai diterapkan melalui campuran bensin E10 pada 2027.
Bahlil menilai, nilai bioetanol di tengah kenaikan nilai minyak bumi saat ini tetap kompetitif dibandingkan dengan produk BBM nonsubsidi, sehingga dinilai belum memerlukan biaya talangan dari adanya disparitas harga.
Bahlil menjelaskan, bahan baku bioetanol berasal dari tiga komoditas utama, ialah jagung, singkong dan tebu. Untuk tebu, bahan baku nan dimanfaatkan berasal dari molase nan selama ini mempunyai nilai ekonomi relatif rendah.
Bahlil menyebut pemerintah mau memastikan nilai bahan baku tetap memberikan untung bagi petani. Saat ini nilai molase berada di kisaran Rp1.000 per kilogram, sedangkan nilai bioetanol sekitar Rp11.000 per liter.
Di sisi lain, nilai bensin nonsubsidi berada di kisaran Rp16.000 per liter. Dengan kondisi tersebut, penggunaan bioetanol dinilai tetap kompetitif sehingga belum memerlukan support biaya kompensasi.
"Kalau etanolnya di Rp11.000 kemudian nilai bensin sekarang Rp16.000, berfaedah kan ada selisih. Itu mungkin tidak ada biaya talangan," ujarnya saat ditemui di Kementerian ESDM, Senin (3/8/2026).
Namun, Bahlil mengatakan skema insentif tetap perlu disiapkan andaikan nilai minyak bumi turun sehingga nilai bensin berada di bawah nilai bioetanol. Dalam kondisi tersebut, pemerintah bakal menyiapkan formulasi untuk menutup selisih nilai agar program pencampuran bioetanol tetap berjalan.
"Tetapi ketika nilai minyak bumi turun, contoh menjadi Rp9.000 alias Rp10.000, etanolnya Rp11.000, berfaedah bakal ada selisih. Nah, ini nan kita bakal membentuk ininya. Kita bakal membikin satu formulasi nan baik untuk kepentingan industri, petani, dan negara," katanya.
44 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·