ilustrasi(Antara)
Rencana ekspor listrik Indonesia ke Singapura menjadi salah satu pembahasan utama dalam lawatan Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong di Istana Merdeka, Jakarta, pekan ini. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebut kerja sama tersebut tetap menyisakan satu persoalan krusial, ialah penentuan nilai listrik. Menurutnya, perihal itu kudu memberikan untung seimbang bagi Indonesia dan Singapura.
Bahlil menjelaskan, pembahasan tersebut merupakan kelanjutan dari kerja sama sektor daya nan telah disepakati sejak tahun lalu. Kerja sama itu mencakup ekspor listrik hijau, pengembangan area industri hijau, serta carbon capture and storage (CCS).
"Dari satu tahun lampau kan kita sudah melakukan penandatanganan MoU. Ada tiga MoU kita. Satu adalah ekspor listrik ke Singapura, listrik hijau, kedua area industri hijau, dan nan ketiga adalah untuk carbon capture storage alias CCS-nya. Ketiganya merupakan satu kesatuan nan kita tandatangani sejak tahun kemarin," kata Bahlil dalam keterangan nan dikutip, Rabu (8/7).
Meski perkembangan kerja sama dinilai positif, proses negosiasi belum sepenuhnya selesai. Salah satu persoalan nan tetap dibahas adalah penetapan nilai listrik. Bahlil menekankan bahwa izin di Indonesia menempatkan kewenangan penentuan nilai tersebut pada pemerintah.
Indonesia, katanya, menginginkan kesepakatan nan tidak hanya membuka kesempatan ekspor energi, tetapi juga memberikan faedah ekonomi nan seimbang bagi kedua negara.
"Terkait dengan nilai listrik ke Singapura, proses tahapannya berjalan, tetapi kita tetap menegosiasikan harga. Kita mau ada win-win, saling menguntungkan. Kerja sama itu kudu saling menguntungkan kedua pihak. Tinggal di titik itu saja dan saya pikir sejenak lagi bakal ada titik temu," ungkapnya.
Rencana perdagangan listrik lintas pemisah menjadi bagian dari penguatan hubungan ekonomi kedua negara, khususnya dalam pengembangan daya hijau dan transisi energi. Namun, penyelesaian negosiasi nilai tetap menjadi penentu agar kerja sama tersebut dapat segera diimplementasikan.
Kesepakatan nilai nan seimbang dinilai krusial agar ekspor listrik tidak hanya menjadi transaksi komersial, tetapi juga memberikan faedah ekonomi nyata bagi Indonesia serta mendukung keberlanjutan kerja sama daya dengan Singapura. (E-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·