Bahlil-DPR Sepakati Lifting Minyak di RAPBN 2027 Capai 612.500 Barel

Sedang Trending 45 menit yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia berbareng Komisi XII DPR RI menyepakati sasaran produksi minyak siap jual alias lifting minyak pada 2027 sebesar 612.500 barel per hari (bph).

Target tersebut meningkat dibandingkan sasaran lifting minyak nan ditetapkan dalam APBN 2026 sebesar 610.000 bph.

Bahlil mengatakan, pemerintah sebelumnya mengusulkan dugaan lifting minyak 2027 dalam rentang 605.000-620.000 bph. Setelah melalui pembahasan, pemerintah dan DPR kemudian menyepakati nomor 612.500 bph.

"Nah di 2027 kita memang langkah kita dalam nota pengantar APBN awal dugaan itu kan 605 sampai 620.000 barel per day. Nah tadi kita sepakati menjadi 612.500 barel per day," kata Bahlil di Gedung DPR, dikutip Rabu (2/9/2026).

Oleh karena itu, guna menggenjot kenaikan produksi di tahun depan, Bahlil menyebut pada 2027 terdapat sejumlah penambahan sumur produksi. Salah satunya nan dikembangkan oleh Petronas di wilayah Madura.

"Terus ada beberapa penambahan sumur kita nan memakai teknologi EOR. Terus ada juga beberapa penambahan potensi sumur kita nan ada di Sumatera. Jadi saya pikir insya Allah doakan aja mudah-mudahan enggak ada trouble di sektor listrik alias di pipa," katanya.

Di sisi lain, dia mengakui realisasi lifting minyak nasional pada 2026 tetap berada di bawah sasaran nan ditetapkan dalam APBN sebesar 610.000 bph.

Bahlil mengatakan, salah satu aspek nan memengaruhi capaian lifting adalah penurunan produksi di Blok Cepu nan dikelola ExxonMobil. Adapun, produksi blok tersebut disebut mengalami penurunan dari sebelumnya sekitar 185.000 bph menjadi 140.000 bph.

Selain itu, gangguan kelistrikan di Blok Rokan nan dioperatori PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) juga turut berakibat terhadap produksi minyak nasional. Gangguan tersebut menyebabkan kehilangan produksi sekitar 4-5 juta barel.

"Kemudian kita punya blok nan ada di Sumatra itu terjadi trouble listrik sehingga kita kehilangan kurang lebih sekitar 4 sampai 5 juta barel. Nah itu kemudian membikin sasaran terhadap lifting di 2026 itu tetap belum tercapai di 610.000 barel," kata Bahlil.

(pgr/pgr) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News