Bahaya! Iran Ancam Tutup 3 Perairan 'Nadi' Dunia, Bukan Cuma Hormuz

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali memanas. Tak hanya Selat Hormuz, Teheran sekarang menakut-nakuti bakal memblokir pelayaran di tiga jalur laut strategis dunia, ialah Teluk Persia, Teluk Oman, dan Laut Merah.

Langkah ini disebut sebagai respons atas tekanan Washington nan membatasi pergerakan kapal Iran di Selat Hormuz. Pembatasan tersebut dilakukan setelah negosiasi kedua negara menemui jalan buntu.

Perwakilan komando militer Iran menegaskan penghentian aktivitas kapal komersial di tiga perairan strategis dapat dilakukan jika tekanan terhadap pengiriman maritim Iran terus berlanjut. Sementara Kepala staf militer Iran, Ali Abdollahi, menyebut langkah blokade tambahan tersebut berpotensi dikategorikan sebagai pelanggaran terhadap rezim gencatan senjata.

"Kami tidak bakal mengizinkan ekspor alias impor apa pun melalui jalur air utama ini," tegasnya, seperti dikutip BBC, Jumat (17/4/2026).

Di sisi lain, AS menyatakan kebijakan pembatasan tersebut bermaksud untuk mengontrol jalur pelayaran nan mengenai dengan Iran. Namun, Teheran menilai langkah itu terlarangan dan provokatif.

Ancaman Iran ini menjadi perhatian dunia lantaran ketiga jalur laut tersebut merupakan 'urat nadi' perdagangan dunia. Sebagian besar pengedaran minyak mentah dunia melintasi area ini. Gangguan di wilayah tersebut berpotensi memicu lonjakan nilai daya dan mengacaukan rantai pasok global.

Sejumlah analis memperingatkan, eskalasi bentrok dapat berakibat langsung pada nilai minyak dunia. Jika pengedaran terganggu, nilai daya berisiko melonjak tajam, nan pada akhirnya bisa mendorong inflasi global.

Hingga kini, upaya diplomatik tetap terus berlangsung. Opsi perpanjangan gencatan senjata dan pembukaan kembali negosiasi tengah dibahas, namun belum ada kesepakatan konkret antara kedua pihak.

(tfa/sef)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News