Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Prabowo Subianto telah usai menggelar rapat terbatas dengan sejumlah menteri ekonomi hingga Gubernur Bank Indonesia periode 2003 -2008 Burhanuddin Abdullah di Istana Negara, Jakarta, Jumat (22/5/2026).
Purbaya mengatakan, dari hasil rapat nan turut dihadiri mantan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Paskah Suzetta hingga Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Indonesia Lukita Dinarsyah Tuwo itu, membicarakan tentang masalah krisis hingga stabilitas kurs rupiah.
"Ya, mereka sharing pengetahuan gimana waktu mengalami ada krisis 2007-2008 dan sebelum-sebelumnya. Itu saja kita pelajari, masukan dari mereka apa. Saya sudah catat, saya diperintahkan untuk mempelajari, ya kita pelajari," kata Purbaya seusai rapat.
Menurut Purbaya, dalam rapat itu, para mantan pejabat-pejabat nan menangani ekonomi Indonesia kala itu menilai masalah kurs dan tekanan ekonomi nan dialami Indonesia saat ini lebih disebabkan aspek persepsi, bukan masalah fundamental.
"Karena masukan mereka juga sama, sebetulnya esensial kita banget baik. Kalau dibandingkan 1998 kan waktu itu dari Rp 2.000 melemah ke sekian, Rp 17.000 kan sekian kali lipat. Kalau sekarang kan (depresiasi) 4-5% kan sebetulnya jauh," tegas Purbaya.
"Dan di samping itu esensial eknominya bagus sekali. Dan mereka juga bilang mungkin persepsi orang nan membikin ada tekanan ke nilai tukar," ucapnya.
Dari hasil rapat itu, dia menekankan dari hasil rapat usulan nan mencuat adalah gimana memperbaiki persepsi pelaku pasar finansial dan ekonomi untuk kembali membalikkan penguatan kurs, termasuk sentimen di pasar saham Indonesia.
"Kalau dari esensial sih enggak ada masalah, mereka setuju. Jadi, kita bakal memperbaiki langkah mungkin kita mensosialisasikan keberhasilan kita ke publik," ujar Purbaya.
(arj/arj)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
8 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·