Bagaimana Mahasiswa UGM Menjalani Samsara Lewat Sebuah Orkestra

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Benawa Java Permadi saat memberi sambutan pembuka. Foto: Dok. GMCO

Ketika lagi terakhir, My Way dari Frank Sinatra selesai dimainkan, satu per satu nama dipanggil ke depan panggung.

Sebagai Project Manager Grand Concert Vol. 12, Benawa Java Permadi berdiri di samping Ketua Gadjah Mada Chamber Orchestra (GMCO), Medha Safia. Bergantian, keduanya menyerahkan kembang kepada para pemain, penari, paduan suara, dan para kolaborator nan selama berbulan-bulan ikut membangun pagelaran itu. Penonton bertepuk tangan.

Di tengah prosesi tersebut, Benawa tampak paling susah menyembunyikan perasaannya. Ia tetap tersenyum, tetapi matanya tampak seperti mata nan belum selesai menangis. Tujuh bulan terakhir belum sepenuhnya meninggalkan wajahnya.

Untuk sesaat, pagelaran tampak betul-betul selesai. Namun saat tepuk tangan penonton belum betul-betul usai, nada pembuka Hey Jude mulai terdengar.

Foto: Dok. GMCO

Jika My Way sebelumnya terdengar seperti ucapan perpisahan, maka Hey Jude menjadi semacam pelukan terakhir malam itu.

Semua penonton ikut menyanyikan Hey Jude. Ketika lagu bergerak menuju bagian akhirnya, suasana ruangan perlahan mencair. Para penari dari SMA Negeri 3 Yogyakarta saling berpelukan. Anggota Paduan Suara Mahasiswa Cantus Firmus Universitas Sanata Dharma berbaur dengan para pemain orkestra. Di panggung, orang-orang nan selama ini lebih sering berjumpa dalam rapat dan latihan sekarang saling memberi selamat.

Di tengah keramaian itu, Medha bergerak ke sana kemari memeluk teman-temannya satu per satu. Tujuh bulan pekerjaan akhirnya selesai.

Bagi sebagian besar penonton nan malam itu memenuhi auditorium, Grand Concert Vol. 12 mungkin tampak seperti sebuah konser mahasiswa nan sukses digelar dengan baik. Namun bagi orang-orang nan membangunnya, malam itu tampak terasa seperti sesuatu nan lain.

Tema konser mereka adalah Samsara. Dan selama berbulan-bulan terakhir, mereka memang tidak hanya memainkan cerita itu.

Mereka menjalaninya.

119 Orang nan Percaya

Foto: Dok. GMCO

Pada Sabtu, 30 Mei, Auditorium Driyarkara Universitas Sanata Dharma dipenuhi ratusan penonton nan datang untuk menyaksikan Grand Concert Vol. 12 Gadjah Mada Chamber Orchestra. Selama lebih dari tiga jam, mereka menikmati sebuah pagelaran nan bercerita tentang kehidupan, kehilangan, pencarian makna, dan penerimaan.

Di kembali pagelaran oleh 73 pemain orkestra, 24 personil Paduan Suara Mahasiswa Cantus Firmus Universitas Sanata Dharma dan 9 siswa talent Koreografi dari Jubah Macan SMA 3 Yogya, nan berjalan selama satu malam itu, ada jauh lebih banyak orang daripada nan terlihat di atas panggung.

Ada 119 mahasiswa nan terlibat dalam kepanitiaan konser ini. Mereka datang dari bidang nan nyaris mustahil dipertemukan dalam satu ruang kuliah nan sama.

Ada mahasiswa Teknik Nuklir, Teknik Fisika, Teknik Kimia, Teknik Geologi, Teknologi Informasi, Elektronika dan Instrumentasi, Kedokteran Gigi, Ilmu Keperawatan, Farmasi, Psikologi, Hubungan Internasional, Arkeologi, Antropologi Budaya, Geografi Lingkungan, hingga Teknologi Veteriner. Mereka mengurus panggung, mencari sponsor, menjual tiket, mengatur konsumsi, menyusun visual, hingga memastikan ada wartawan nan meliput aktivitas mereka.

Foto: Dok. GMCO

Sulit membayangkan apa nan mempertemukan mahasiswa Teknik Nuklir, siswa SMA kelas 10, mahasiswa Arkeologi, dan penyanyi paduan bunyi dalam satu proyek nan sama.

Jawabannya mungkin adalah sesuatu nan tidak pernah tercantum dalam kurikulum: kemauan untuk membangun sesuatu bersama. Keinginan itu pula nan membikin Benawa menerima peran sebagai project manager Grand Concert tahun ini.

Di atas kertas, dia mungkin bukan sosok nan langsung diasosiasikan dengan sebuah pagelaran orkestra nan penuh refleksi filosofis. Ia adalah mahasiswa Teknik Sipil. Sehari-harinya lebih berkawan dengan kalkulasi struktur gedung daripada obrolan tentang makna hidup.

Namun justru dari sanalah buahpikiran besar konser ini lahir.

Di Mana Letak Kebahagiaan?

Benawa Java Permadi saat memberi sambutan pembuka. Foto: Dok. GMCO

Dalam pidatonya sebelum pertunjukan, Benawa bercerita bahwa tema Samsara berangkat dari pertanyaan nan selama beberapa tahun terakhir terus mengikutinya: di mana sebenarnya letak kebahagiaan?

Pertanyaan itu muncul dari pengalaman nan sangat pribadi.

Saat pandemi Covid-19 melanda pada 2020, keluarganya mengalami masa nan tidak mudah. Namun ada satu perihal nan membuatnya heran hingga sekarang. Ia justru mengingat masa-masa itu sebagai periode nan cukup membahagiakan.

Bangun pagi. Pergi ke pasar. Membeli sayur. Pulang ke rumah. Memasak berbareng keluarga. Aktivitas sederhana nan sebelumnya terasa biasa tiba-tiba mempunyai makna nan berbeda.

“Di mana letak kebahagiaan itu?”

Jika kebahagiaan sepenuhnya berasal dari hal-hal di luar diri manusia, pikirnya, maka setiap orang nan memperoleh apa nan diinginkan semestinya selalu merasa bahagia. Tetapi kenyataannya tidak demikian.

Dari pertanyaan itulah Samsara lahir.

Bersama Ketua Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Gadjah Mada Chamber Orchestra nan sekaligus bertindak sebagai Event Creative Director, Medha Safia, dan tim imajinatif lainnya, Benawa menyusun sebuah perjalanan jiwa nan dibagi menjadi enam babak: Innocence, Ignorance, Death, Revelation, Reflection, dan Peace.

Foto: Dok. GMCO

Di atas panggung, perjalanan itu diterjemahkan melalui lagu-lagu nan tampaknya tidak mempunyai hubungan satu sama lain. Ada Another Day of Sun dari La La Land. Ada Jagoan dari Sherina. Ada musik dari Genshin Impact dan Final Fantasy X. Ada Lexicon milik Isyana Sarasvati. Ada Annie's Song karya John Denver. Ada My Way. Dan pada akhirnya, Hey Jude dari The Beatles.

Bagi sebagian orang, pilihan lagu itu mungkin terlihat acak. Namun bagi para pembuatnya, setiap lagu adalah satu potongan emosi. Mereka tidak sedang membangun konser berasas genre. Mereka sedang membangun cerita.

“Itulah kenapa Grand Concert GMCO menyebut dirinya orkestra nan bercerita,” kata Medha dalam wawancara beberapa hari sebelum pertunjukan.

Cerita itu rupanya tidak hanya hidup di atas panggung. Ia juga hidup di antara orang-orang nan membuatnya.

Kerinduran dan Kelahiran Kembali

Foto: Dok. GMCO

Samsara lahir dari banyak percakapan tentang kehilangan.

Sebagiannya berasal dari pengalaman pribadi Benawa saat melewati masa pandemi. Sebagian lainnya datang dari pengalaman nan lebih kolektif: ketika mahasiswa-mahasiswa nan tumbuh di Gelanggang kudu belajar menerima bahwa ruang nan selama ini mereka anggap rumah perlahan berubah.

Tema itu kemudian menjadi fondasi konser. Sebuah cerita tentang manusia nan kehilangan sesuatu, marah, bingung, mencari makna, lampau perlahan belajar menerima hidup apa adanya.

Dan bagi semua personil GMCO, cerita itu bukan sekadar cerita. Mereka sedang menjalaninya.

Dalam beberapa tahun terakhir, beragam unit aktivitas mahasiswa di UGM kudu meninggalkan Gelanggang, area nan selama puluhan tahun menjadi rumah bagi organisasi-organisasi mahasiswa. Gelanggang Mahasiswa diganti gedung baru nan jauh lebih megah, lebih luas nan berjulukan Gelanggang Inovasi dan Kreatifias (GIK) UGM.

Foto: Dok. GMCO

Bagi orang luar, perpindahan itu mungkin terlihat seperti urusan administratif biasa.

Pindah ruangan.

Pindah sekretariat.

Pindah alamat.

Namun bagi mahasiswa nan tumbuh di dalamnya, Gelanggang bukan sekadar bangunan. Ia adalah ekosistem.

Tempat mahasiswa musik berjumpa mahasiswa fotografi. Tempat pemain teater berbincang dengan seniman rupa. Tempat ide-ide baru lahir dari obrolan nan apalagi tidak direncanakan. Tempat seseorang datang untuk latihan, tetapi pulang membawa kawan baru, pendapat baru, apalagi jalan hidup nan baru.

Bagi Benawa, perubahan itu terasa sangat nyata.

Ia tetap mengingat gimana personil GMCO kudu memindahkan perlengkapan sekretariat sedikit demi sedikit ke tempat baru. Speaker. Stand musik. Kabel. Peralatan latihan. Barang-barang nan selama bertahun-tahun memenuhi ruang lama kudu diangkat dan dipindahkan satu per satu.

“Kami memindahkan peralatan dari lantai satu ke lantai tiga setiap hari. Sangat capek sebenarnya,” kenangnya.

Namun ketika mengingat masa itu, nan paling membekas tidak hanya rasa lelahnya. “Dari situ kita juga mendapatkan bonding kekeluargaan nan sangat kuat.”

Kalimat itu terdengar sederhana. Tetapi di dalamnya tersimpan sesuatu nan penting. Samsara tidak lahir hanya dari buku, teori, alias obrolan filsafat. Ia lahir dari pengalaman hidup nan betul-betul dialami para pembuatnya.

Ketika Benawa berbincang tentang kehilangan dalam konser, dia tidak sedang membayangkan kehilangan. Ia pernah merasakannya. Ketika dia berbincang tentang menerima kenyataan, dia tidak sedang menjelaskan konsep. Ia sedang menceritakan proses nan pernah dijalani berbareng teman-temannya.

“Hidup tidak hanya isinya kebahagiaan. Kesusahan juga menjadi bagian krusial dalam hidup kami masing-masing.”

Ketua Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Gadjah Mada Chamber Orchestra (GMCO) Medha Safia, saat memberi sambutan pembuka. Foto: Dok. GMCO

Ketua UKM GMCO, Medha Safia, merasakan kehilangan itu dengan langkah nan berbeda. nan dia rindukan bukan semata gedung Gelanggang. nan dia rindukan adalah kemungkinan-kemungkinan nan lahir di dalamnya. Pertemuan-pertemuan kecil. Orang-orang nan tiba-tiba datang membawa ide. Diskusi nan berhujung menjadi proyek. Kolaborasi nan muncul tanpa direncanakan.

“Merindukan Gelanggang dan sebagai gantinya kami sekarang terpisah-pisah ini,” katanya.

Kalimat itu terdengar seperti keluhan. Padahal sebenarnya dia lebih mirip ungkapan sayang. Karena pada saat nan sama, Medha juga tahu bahwa hidup kampus tidak mungkin berakhir hanya lantaran sebuah ruang berubah.

Karena itu, ketika menyusun Grand Concert tahun ini, dia dan teman-temannya justru berupaya menciptakan kembali semangat nan selama ini mereka rindukan. Mereka membujuk siapa saja untuk terlibat.

Bukan hanya personil GMCO.

Bukan hanya mahasiswa nan bisa memainkan musik orkestra.

Panitia konser ini terdiri dari mahasiswa dari puluhan program studi berbeda. Mereka bekerja berbareng dalam satu proyek nan sama. Ada nan mengurus sponsor, ada nan mengatur konsumsi, ada nan merancang visual, ada nan menjual tiket, ada nan mengatur panggung.

Tanpa mereka sadari, konser ini telah berubah menjadi sesuatu nan lebih besar daripada pagelaran musik. Ia menjadi upaya untuk menciptakan kembali ruang perjumpaan nan mereka rasa mulai hilang.

Direktur Kemahasiswaan UGM, Hempri Suyatna. Foto: Dok. GMCO

Dari sisi kampus, perubahan tersebut dipandang sebagai bagian dari proses nan kudu dijalani.

Direktur Kemahasiswaan UGM, Hempri Suyatna, mengaku memahami emosi kehilangan nan dirasakan mahasiswa. “Sedih saya kira sangat wajar, di saat nan sama, melalui lakon Samsara ini mahasiswa juga telah menunjukkan gimana bisa bangkit kembali,” usai pertunjukan.

Menurut Hempri, sebuah universitas kudu terus berubah untuk menjawab kebutuhan zamannya. “Sebagai lembaga nan mau terus relevan dengan perkembangan zaman, perubahan itu perihal biasa. Kita kudu menatap masa depan, beradaptasi terhadap perubahan adalah tugas kita semua termasuk mahasiswa.”

Menurutnya, kampus telah menyiapkan akomodasi pengganti nan diharapkan bisa mendukung aktivitas mahasiswa dengan lebih baik. “Siapa nan mau UKM kita makin jelek? Tidak ada. Pasti mau makin bagus.”

Pada titik itu, barangkali tidak ada pihak nan betul alias salah. Mahasiswa mempunyai argumen untuk merindukan Gelanggang. Kampus mempunyai argumen untuk berubah.

Medha Safia. Foto: Dok. GMCO

Karena itulah pidato mahasiswa Sosiologi nan jadi Ketua Gadjah Mada Chamber Orchestra (GMCO), Medha Safia, sebelum konser, terasa begitu personal.

Di hadapan para pemain dan panitia dan hadirat penonton, dia tidak berbincang tentang sasaran penonton alias kesuksesan acara. Ia berbincang tentang kolaborasi. Tentang angan bahwa anak-anak muda tetap bisa bekerja berbareng di tengah bumi nan semakin kompetitif.

“Kita tetap mungkin kok melakukan kerjasama di tengah-tengah bumi nan penuh semangat kapitalis ini. Kita tetap bisa mengedepankan semangat sosial.”

Saat konser mau betul-betul berakhir, Hey Jude dari The Beatles berkumandang. Paul McCartney membujuk kita untuk menerima luka, membuka hati, dan membikin hidup sedikit lebih baik.

Benawa, laki-laki awal 20-an nan begitu gagah itu, matanya selalu tampak berbinar-binar apalagi saat dia menyaksikan seluruh pagelaran dari ruang operator di belakang sana. Medha ke sana-kemari memeluk semua temannya, satu per satu.

Seperti cerita nan mereka mainkan malam itu, mereka tampak telah menemukan sesuatu nan selama ini mereka cari.

Bukan kesempurnaan.

Bukan kemenangan.

Melainkan emosi bahwa mereka tidak menjalaninya sendirian.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan