Badai PHK Hantam Netflix, Siap Pecat Ribuan Karyawan

Sedang Trending 2 hari yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Raksasa jasa streaming global, Netflix, secara mengejutkan mengumumkan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap sekitar 6% dari total tenaga kerjanya. Langkah efisiensi besar-besaran ini dipastikan bakal menyantap korban kurang lebih 1.000 orang pekerja.

Mengutip CNBC, Kamis (15/10/2026), pemangkasan jumlah tenaga kerja ini sebagian besar bakal menyasar beragam posisi krusial di tim produk, teknologi, hukum, dan sumber daya manusia (HR). Keputusan pahit tersebut terungkap secara rinci melalui sebuah memo internal perusahaan nan ditujukan kepada para staf pada hari Rabu.

Dalam memo internal tersebut, Co-CEO Netflix Ted Sarandos dan Greg Peters membeberkan argumen strategis di kembali langkah pemangkasan nan ditempuh oleh perusahaan.

"Misi kami untuk menghibur bumi adalah sesuatu nan ambisius, dan untuk mewujudkannya mengharuskan kami untuk berdisiplin mengenai di mana kami memprioritaskan orang dan sumber daya kami," ungkapnya.

"Bisnis kami kuat dan terus berkembang, dan kami tetap berada di jalur nan tepat untuk memenuhi perkiraan setahun penuh kami. Kami bakal terus berinvestasi secara garang di area-area berakibat tinggi untuk meningkatkan jasa kami serta lebih jauh mendorong pertumbuhan dan inovasi."

"Melakukan perihal itu berfaedah membikin pilihan-pilihan nan terfokus di seluruh upaya sehingga kami dapat terus memberikan hasil bagi para anggota, mitra, karyawan, dan penanammodal kami," ucap Peters.

Pihak Netflix menyatakan tidak mempunyai komentar tambahan apa pun di luar memo dari kedua bos besar tersebut, di mana perusahaan sekarang tengah bersiap melaporkan pendapatan kuartalan pada 20 Oktober mendatang. Ironisnya, gelombang PHK ini terjadi hanya beberapa minggu setelah konvensi Bloomberg Screentime digelar.

"Perusahaan tidak tumbuh secepat nan saya inginkan," kata Sarandos.

Dalam beberapa bulan terakhir, Netflix memang dihadapkan pada sebuah paradoks. Perusahaan terus mencatatkan untung nan solid dan tetap bertengger sebagai pemain terbesar di ranah streaming, namun waktu menonton terpantau stagnan. Penggerak utama dari akuisisi pengguna baru perusahaan murni hanya ditopang oleh penindakan tegas terhadap praktik berbagi kata sandi serta peluncuran tingkatan jasa berlangganan dengan support iklan nan jauh lebih murah.

Di sisi lain, ancaman terbesar bagi Netflix saat ini datang dari YouTube, ditambah dengan kemunculan entitas baru Skydance di depan mata. Entitas campuran raksasa dari Paramount dan Warner Bros. Discovery tersebut diketahui mempunyai rencana masif untuk mengintegrasikan platform streaming kedua perusahaan, ialah Paramount+ dan HBO Max.

Demi bersaing memperebutkan porsi perhatian konsumen, Netflix sejatinya telah mendiversifikasi kontennya dalam beberapa tahun terakhir dengan berekspansi secara garang ke siaran olahraga langsung, movie dokumenter, hingga permainan video. Namun pada saat nan sama, platform ini kehilangan daya magisnya lantaran kekurangan hit fenomenal nan kerap menjadi buah bibir layaknya "Stranger Things" dan "Squid Game", nan sebelumnya selalu sukses mendongkrak penayangan maupun pertumbuhan pelanggan.

Tren efisiensi sadis ini nyatanya tidak hanya menerpa Netflix di ruang media. Pada bulan lalu, pesaing utamanya ialah Disney juga telah resmi mengumumkan PHK terhadap sekitar 300 karyawannya, dengan kebanyakan pemotongan secara spesifik menyasar pada sumber daya manusia dan peran teknologi.

(tps/tps) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News
↑