Ilustrasi.(Magnific)
DALAM ibadah salat, duduk di antara dua sujud merupakan salah satu rukun nan di dalamnya terdapat rekomendasi untuk membaca doa. Namun, belakangan muncul obrolan di tengah masyarakat mengenai keabsahan redaksi angan tertentu, khususnya tambahan lafal wa'fu 'annii. Sebagian pihak mendaku bahwa tambahan tersebut tidak mempunyai dasar riwayat hadits sama sekali.
Persoalan ini memicu pertanyaan: benarkah referensi nan selama ini diajarkan oleh para ustadz di madrasah dan kitab-kitab fikih klasik tidak mempunyai sandaran kuat? Penelusuran terhadap kitab-kitab hadits primer dan literatur lintas ajaran menunjukkan bahwa tuduhan ketiadaan riwayat tersebut tidaklah tepat. Berikut penjelasan Ustaz Ahmad Syahrin Thoriq dalam akunnya di Instagram.
Menemukan Lafal Wa'fu 'Anni dalam Hadits
Klaim bahwa lafal wa'fu 'annii tidak ditemukan dalam kitab hadits seperti Bukhari, Muslim, hingga Ibnu Majah mungkin betul untuk kitab-kitab spesifik tersebut. Namun, khazanah hadits sangatlah luas. Redaksi komplit nan mencakup lafal tersebut nyatanya tercantum secara definitif dalam kitab Sunan Al-Kubra karya Imam Al-Baihaqi.
Dalam nomor hadits 3979, Imam Al-Baihaqi meriwayatkan angan duduk di antara dua sujud dengan redaksi:
"Allahummaghfirlii warhamnii wahdinii warzuqnii wa'aafinii wa'fu'annii."
Arti: Ya Allah ampuni aku, sayangi aku, bimbinglah aku, berikan rezeki kepadaku, sehatkan aku, dan maafkan aku.
Keberadaan riwayat itu menjadi bukti autentik bahwa referensi nan menyertakan permohonan maaf (wa'fu 'annii) mempunyai dasar nan jelas dalam literatur hadits, bukan sekadar karangan masyarakat alias ustadz belakangan.
Ragam Redaksi Doa Duduk di Antara Dua Sujud
Penting bagi umat Islam untuk memahami bahwa referensi dalam salat sering kali mempunyai ragam (tanawwu' al-'ibadah). "Berdasarkan riwayat-riwayat nan dikumpulkan para ulama, setidaknya terdapat tujuh ragam bacaan duduk di antara dua sujud nan berasal dari Rasulullah SAW," ujar AST, panggilan akrabnya.
- Riwayat Ibnu Majah: Robbighfirlii warhamnii wajburnii warzuqnii warfa'nii.
- Riwayat Abu Dawud: Robbighfirlii, robbighfirlii (diulang dua kali).
- Riwayat Imam At-Tirmidzi: Allahummaghfirlii warhamnii wajburnii wahdinii warzuqnii.
- Riwayat Imam Ahmad: Robbighfirlii warhamnii wajburnii warfa'nii warzuqnii wahdinii.
- Riwayat Ibnu Abi Syaibah: Allahummaghfir warham wahdissabilal aqwam.
- Riwayat Imam Baihaqi: Allahummaghfirlii warhamnii wahdinii warzuqnii wa'aafinii wa'fu'annii.
Perspektif Ulama Lintas Mazhab
Bacaan nan menyertakan wa'fu 'annii bukan hanya dikenal dalam ajaran Syafi'i, tetapi juga diakui dalam mazhab-mazhab besar lain seperti Hanafi dan Maliki. Para ustadz besar telah mencantumkan dan menganjurkan referensi ini dalam karya-karya monumental mereka:
- Mazhab Syafi'i: Disebutkan oleh Imam Ramli dalam Nihayatul Muhtaj, Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumiddin, Imam Syirazi dalam Al-Muhadzab, serta Ibnu Hajar Al-Haithami dan Syekh Al-Bujairami.
- Mazhab Maliki: Al-Imam An-Nafrawi menyebutkannya dalam kitab Fawakih Ad-Dawani.
- Konteks Lain: Terdapat pula dalam fatwa-fatwa nan terhimpun dalam Ad-Durar As-Saniyyah.
Imam Al-Munawi menjelaskan bahwa lantaran banyaknya ragam redaksi ini, para ustadz membolehkan seseorang untuk memilih salah satu redaksi nan paling mudah dihafal, alias apalagi menggabungkan redaksi-redaksi tersebut (jam'u baina ar-riwayat) untuk mendapatkan keistimewaan angan nan lebih lengkap.
Catatan Penting: Kesalahan dalam meneliti suatu riwayat bisa terjadi pada siapa saja, apalagi pada mereka nan telah membaca banyak kitab. Terlewatnya satu laman alias satu kalimat adalah perihal manusiawi. Namun, nan menjadi masalah adalah ketika keterbatasan pencarian pribadi dijadikan dasar untuk menyalahkan praktik ibadah orang lain nan sebenarnya mempunyai dasar kuat.
Kesimpulan
Bacaan duduk di antara dua sujud nan selama ini dipelajari masyarakat Indonesia--termasuk lafal wa'fu 'annii--ialah betul dan berasal dari kitab hadits serta diajarkan oleh ustadz nan kredibel. Perbedaan redaksi dalam salat adalah corak keluasan rahmat dalam syariat. Sikap nan bijak adalah tidak terburu-buru menyalahkan pihak lain, terutama jika landasan keilmuan kita belum mencakup seluruh khazanah hadits nan ada.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·