JAKARTA — Melempar jumrah alias ritual melempar batu kerikil dalam rangkaian ibadah haji merupakan simbol keteguhan seorang mukmin dalam melawan bujukan setan, hawa nafsu, serta dosa-dosa nan mengotori hati. Dalam ibadah haji, terdapat tiga macam jumrah, ialah Ula, Wustha, dan Aqabah, nan masing-masing dilakukan dengan melempar tujuh butir batu kerikil.
Memperhatikan makna mendalam dari ritual ini, sudah sepatutnya umat Islam tidak melaksanakannya sebagai sekadar aktivitas fisik, melainkan dibarengi dengan doa, harapan, dan penghambaan nan tulus kepada Allah SWT.
Dilansir dari laman Majelis Ulama Indonesia (MUI), sahabat Nabi nan mulia, Abdullah bin Umar RA, memberikan teladan dalam mengamalkan angan saat menjalankan ibadah ini. Dalam riwayat nan dinukil dari kitab Ad-Du’a karya At-Thabrani, disebutkan bahwa setiap kali Abdullah bin Umar melempar satu batu kerikil, beliau bertakbir:
اَللهُ أَكْبَرُ
Allāhu Akbar.
Artinya: “Allah Mahabesar.”
Kemudian, beliau menyambungnya dengan membaca angan berikut:
اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ حَجًّا مَبْرُورًا وَذَنْبًا مَغْفُورًا
Allāhummaj'alhu hajjan mabrūran wa dzanban maghfūran.
Artinya: “Ya Allah, jadikanlah ini sebagai haji nan mabrur dan dosa nan diampuni.” (HR At-Thabrani).
Riwayat senada juga ditemukan dalam kitab Sunan al-Kubra karya Al-Baihaqi dan kitab Al-Musannaf karya Ibnu Abi Syaibah. Dalam riwayat lain dari Ibrahim an-Nakha‘i, dikisahkan bahwa Mughirah bertanya kepada beliau mengenai angan saat melempar jumrah, dan Ibrahim pun menganjurkan angan nan sama.
3 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·