Jakarta, CNBC Indonesia - Iran dilaporkan telah menembakkan rentetan rudal ke wilayah Israel pada Minggu, (07/06/2026). Laporan mengenai serangan rudal dari Iran ini muncul setelah Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengeluarkan pernyataan keras nan menuduh pihak sekutu telah merusak komitmen tenteram nan sempat disepakati kedua belah pihak.
Mengutip CNBC International, Ghalibaf menyatakan melalui sebuah unggahan di platform media sosial X bahwa tindakan blokade angkatan laut oleh Amerika Serikat (AS) serta adanya pelanggaran perjanjian mengenai Lebanon menjadi argumen gugurnya gencatan senjata nan telah disepakati. Ketua Parlemen Iran iitu juga memberikan peringatan mengenai status aset militer asing di area Timur Tengah akibat aktivitas militer nan terjadi di Lebanon serta blokade laut nan terus dilancarkan oleh armada AS.
"Aktivitas militer di Lebanon dan blokade AS nan terus bersambung membikin pangkalan dan aset Amerika serta rezim di area tersebut menjadi sasaran nan sah," sebut Ghalibaf menurut terjemahan unggahannya di X.
Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran memberikan pernyataan resmi kepada The New York Times mengenai sifat dari kesepakatan tenteram nan selama ini berjalan. Lembaga militer itu mengatakan serangan jawaban ini tetap dalam cakupan kesepakatan.
"Gencatan senjata tersebut bersyarat di semua lini," tulis pihak IRGC dalam pernyataan resminya.
Pasukan elite Iran tersebut juga menegaskan bahwa serangan nan mereka luncurkan pada hari Minggu malam merupakan corak peringatan awal, dan mereka tidak bakal ragu untuk melipatgandakan daya hancur serangan jika pihak musuh kembali melakukan agresi.
"Operasi malam ini adalah sebuah peringatan, dan jika agresi terulang kembali, respons nan diberikan bakal lebih luas," lanjut pernyataan dari IRGC.
Warning Trump
Pihak CNBC belum dapat mengonfirmasi secara berdikari mengenai peluncuran rudal-rudal tersebut, namun The Associated Press melaporkan pada hari Minggu bahwa Israel menyatakan Iran telah meluncurkan rudal ke arah mereka, dan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) langsung mengoperasikan sistem pertahanan udara setelah mengidentifikasi adanya pergerakan rudal.
Menanggapi situasi genting tersebut, Presiden AS Donald Trump memberikan komentarnya kepada Fox News mengenai akibat jelek dari tindakan penembakan rudal nan dilakukan oleh Teheran.
"Tentu saja tidak bakal membantu negosiasi," ujar Trump pada Minggu.
Seorang pejabat Gedung Putih nan meminta identitasnya dirahasiakan agar dapat berbincang secara terbuka menyatakan kepada MS NOW bahwa Trump telah meremehkan kemauan serta kesiapan Iran untuk memulai kembali bentrok bersenjata di area tersebut.
"Negosiasi baru-baru ini dengan Iran dalam banyak perihal telah menunjukkan salah kalkulasi nan mendasar dari Trump dan Gedung Putih," kata pejabat tersebut.
Pejabat itu juga menambahkan bahwa perilaku tidak menentu dari Iran telah menempatkan presiden AS dalam situasi nan sangat menantang tanpa adanya jalan keluar instan dalam waktu dekat.
Kendati demikian, dalam panggilan telepon berikutnya dengan Financial Times, Trump menyatakan dengan percaya diri bahwa Netanyahu tidak bakal mempunyai pilihan lain selain menerima kesepakatan nan dinegosiasikan oleh AS dengan Iran lantaran dirinya nan memegang kendali penuh atas keputusan tersebut.
"Tidak bakal mempunyai pilihan," tutur Trump nan menegaskan bahwa sang presiden AS adalah pihak nan menentukan keputusan akhir.
Gencatan senjata nan rentan antara AS dan Iran ini sebenarnya telah berjalan sejak awal April lalu. Namun pertempuran antara Israel dan golongan Hezbollah nan didukung Iran di Lebanon telah mempersulit perdamaian sementara ini di saat para negosiator berjuang keras untuk menelurkan kesepakatan guna mengakhiri konflik.
Iran sendiri menuntut dihentikannya permusuhan di Lebanon dan mendesak penyetopan blokade AS terhadap pelabuhan dan kapal-kapalnya. AS di lain sisi menuntut agar Iran menyerahkan seluruh bahan nuklirnya dan menyetujui perjanjian untuk tidak bakal pernah membikin senjata nuklir.
Pemerintahan Trump dilaporkan sedang mempertimbangkan opsi untuk mengalihkan aset-aset Iran nan dibekukan kepada negara-negara Teluk nan menjadi sekutu AS guna bayar biaya pembangunan kembali atas kerusakan nan disebabkan oleh serangan-serangan Teheran.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi langsung bereaksi keras terhadap laporan rencana AS tersebut. Ia menyatakan bahwa pemerintah regional sama sekali tidak berada dalam posisi nan tepat untuk menuntut tukar rugi.
"Aset Iran bukanlah rampasan perang bagi Washington maupun biaya pembayaran untuk sekutunya," tegas Gharibabadi.
(tps/tps)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·