Awas Perang Arab! Houthi Rudal Kilang Minyak Saudi, Picu Kebakaran

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Kelompok Houthi asal Yaman nan berkawan dengan Teheran menyatakan bertanggung jawab atas serangan terhadap sebuah kilang minyak di Arab Saudi. Serangan pada Minggu awal hari tersebut menargetkan kilang Aramco di Jazan, barat daya Arab Saudi.

Mengutip The Guardian, Minggu (09/08/2026), akomodasi nan diserang tersebut diketahui memproses 400.000 barel minyak mentah per harinya. Juru bicara militer golongan pemberontak Houthi, Yahya Saree, mengonfirmasi penggunaan pesawat nirawak dalam serangan tersebut melalui sebuah unggahan di platform X.

"Kami menggunakan pesawat nirawak untuk menargetkan kilang di barat daya Arab Saudi," ungkapnya.

Dalam sebuah pernyataan terpisah, Yahya memaparkan bahwa kelompoknya juga telah melakukan serangan rudal dan pesawat nirawak ke kota pelabuhan Mocha di Laut Merah Yaman. Kota pelabuhan tersebut saat ini dikendalikan oleh badan pengatur nan diakui secara internasional dan didukung oleh pihak Arab Saudi di Aden.

Di sisi lain, Kementerian Energi Arab Saudi menyatakan bahwa api sempat berkobar di kilang Jazan pada Minggu awal hari namun sukses dipadamkan tanpa adanya korban jiwa. Pihak Riyadh saat ini dilaporkan sedang menangani kejadian kebakaran di kilang Jazan tersebut. Namun, pihak kementerian sama sekali tidak memberikan keterangan mengenai penyebab pasti terjadinya kebakaran.

Houthi sendiri berulang kali menyerang akomodasi Saudi. Kelompok pro-Iran itu sebelumnya juga pernah menyerang situs Aramco di Jazan, serta menghantam Yanbu nan merupakan pusat ekspor minyak di Laut Merah.

Bulan lalu, golongan pemberontak ini apalagi telah mendeklarasikan blokade angkatan laut terhadap Arab Saudi di wilayah Laut Merah. Deklarasi blokade tersebut diumumkan dengan argumen adanya pengepungan oleh pihak Arab Saudi terhadap wilayah golongan mereka. Namun, tuduhan pengepungan sepihak tersebut langsung dibantah dengan keras oleh pihak Riyadh.

Di sisi lain, kejadian serangan kilang ini terjadi tepat dua hari setelah Arab Saudi menandatangani pakta pertahanan dengan Turki dan Pakistan. Pakta tersebut dibuat sebagai corak respons terhadap meningkatnya ketidakstabilan regional nan disebabkan oleh perang Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran.

Serangan mematikan ini juga meletus setelah Iran menyatakan bahwa tuntutan baru nan berat kudu dipenuhi sebelum mereka membuka kembali Selat Hormuz. Selain itu, Uni Emirat Arab juga melaporkan bahwa salah satu kapalnya telah ditargetkan oleh rudal Iran saat kesepakatan pembukaan jalur perairan tetap belum tercapai.

Dewan keamanan nasional tertinggi Iran menegaskan bahwa selat krusial tersebut tidak bakal dibuka sampai pihak AS memperbaiki perilakunya. Tuntutan ini disampaikan langsung melalui sebuah pernyataan tertulis dari sekretaris dewan, Mohammad Bagher Zolghadr, nan merupakan mantan komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

"AS juga kudu mengakhiri blokade angkatan laut di pelabuhan Iran, menarik militernya, memberikan kompensasi penuh atas kerusakan, mencabut sanksi, dan melepaskan aset nan dibekukan tanpa syarat," tegasnya.

(tps/tps) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News