Atacama Diguyur Hujan Ekstrem setelah Puluhan Tahun, Banjir dan Lumpur Melanda

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Atacama Diguyur Hujan Ekstrem setelah Puluhan Tahun, Banjir dan Lumpur Melanda Ilustrasi(magnifik)

APA nan terjadi jika sebuah wilayah memerlukan waktu bertahun-tahun untuk kembali diguyur hujan? Di satu sisi, tanahnya bisa tampak seperti padang gurun nan nyaris tak tersentuh air.

Namun di sisi lain, ketika hujan akhirnya turun, derasnya bisa berubah menjadi angin besar nan membawa akibat besar bagi lingkungan sekitarnya.

Gurun Atacama di Chili utara dikenal sebagai salah satu tempat terkering di dunia, dengan sejumlah wilayah nan hanya menerima beberapa milimeter hujan per tahun, apalagi ada nan sama sekali tidak pernah diguyur hujan. 

Gurun Ekstrim Atcama

Gurun Atacama membentang di sepanjang tepi barat Pegunungan Andes, di dataran tinggi dengan ketinggian hingga 13.000 kaki alias sekitar 4.000 meter di Chili utara dan Peru selatan. 

Di sebelah barat, gurun ini terjepit di antara Samudra Pasifik, sementara di sebelah timur berdiri Pegunungan Andes. Letaknya membikin wilayah ini terkena pengaruh gambaran hujan nan kuat, sehingga awan susah membawa banyak curah hujan ke area gurun. 

Atacama juga berada dekat arus laut dingin nan mendinginkan udara dan membatasi jumlah uap air nan dapat ditampungnya. Kondisi itu diperburuk oleh area tekanan tinggi nan kerap memperkuat dan menghalangi angin besar bergerak ke wilayah tersebut.

Kombinasi aspek geografis dan atmosfer ini membikin Atacama menjadi salah satu tempat paling kering di bumi. Lokasi-lokasi di gurun ini apalagi menerima curah hujan kurang dari 0,2 inci alias 5 milimeter per tahun. 

Tanah nan sangat kering dan minim vegetasi tidak bisa menyerap air dalam jumlah besar dengan cepat. Akibatnya, air lebih banyak mengalir di permukaan, membawa sedimen dan lumpur hingga membentuk aliran deras nan dapat berubah menjadi banjir bandang. 

Fenomena ini pernah terjadi ketika hujan lebat melanda Atacama dan menyebabkan banjir serta aliran lumpur di sejumlah wilayah. 

Saat Hujan Datang, Gurun Berubah Drastis

Hujan nan turun di area atacama bukanlah hujan biasa melainkan kejadian itu justru menyebabkan badai. 

Pada akhir Maret 2015, kondisi atmosfer nan tidak biasa membawa udara lembap ke Gurun Atacama. Hujan nan terjadi kemudian disebut sebagai salah satu nan terberat dan terluas di area tersebut dalam nyaris satu abad. 

Total curah hujan mencapai nyaris 50 milimeter, tetapi bagi wilayah nan sangat kering, jumlah itu tergolong ekstrem. Antofagasta menerima 24 milimeter hujan pada 25–26 Maret, setara sekitar 14 tahun curah hujan berasas rata-rata tahunannya nan hanya 1,7 milimeter. Sementara itu, Quillagua mengalami hujan pertamanya dalam 23 tahun.

Hujan tersebut memicu banjir dan aliran lumpur lantaran tanah nan telah lama kering tidak bisa menghadapi datangnya air dalam jumlah besar secara tiba-tiba. 

Sedikitnya 26 orang tewas, 120 orang tetap lenyap dua minggu setelah kejadian, sekitar 2.000 rumah hanyut, dan 6.000 lainnya rusak parah. 

NASA mencatat hujan langka itu berangkaian dengan front dingin nan bergerak melintasi Andes, sementara suhu udara dan permukaan laut nan beberapa derajat lebih tinggi dari normal membikin presipitasi nan biasanya turun sebagai salju berubah menjadi hujan.

Data penelitian juga menunjukkan peristiwa 24 - 26 Maret 2015 mempunyai cakupan lebih dari 200.000 kilometer persegi, dengan curah hujan sekitar 10 milimeter di pesisir hingga lebih dari 85 milimeter di area pegunungan.

Fenomena Atacama membuktikan bahwa di tempat nan paling kering sekalipun, hujan bukan selalu berita baik. Ketika datang setelah penantian panjang, air dapat menjadi kekuatan nan mengubah gurun dalam sekejap. 

Sumber: NASA, NOAA Climate

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia