Jebolan Milklife Soccer Challenge (MLSC) asal Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Asyifa Sholawa Farizqi, berbagi pengalamannya seusai pulang dari Prancis memihak Timnas Indonesia Wanita U-17. Banyak pengetahuan seputar sepak bola nan dibawanya sepulang dari Negera Mode Dunia itu.
Asyifa tetap tak menyangka bisa menimba pengetahuan ke negara nan melahirkan bintang sepak bola seperti Thierry Henry, Kylan Mbappe, dan Nicolas Anelka itu. Beragam pengalaman didapatkannya, seperti skill baru, kawan baru, dan sikap disiplin.
"Perasaannya senang banget. Kaget aja bisa ke Eropa secepat itu dan nggak menyangka bisa main bola di beda benua. Masih seperti mimpi bisa bermain di Prancis," katanya kepada kumparan, Jumat (22/5).
Pengalamannya menimba pengetahuan di Prancis membuatnya banjir pujian. Mulai dari orang tua hingga teman-temannya ikut mendukung dan mengucapkan selamat.
"Mereka pada minta oleh-oleh. Kebanyakan minta oleh-oleh gantungan kunci Menara Eiffel," sambungnya.
Ia dan penggawa Timnas Indonesia Wanita U-17 menimba pengetahuan di Clairefontaine, Prancis, selama sepekan, terhitung sejak 3 Mei hingga 6 Mei.
"Kegiatannya di sana internal game. Awalnya mau uji coba tetapi lantaran lawannya sudah pergi, jadinya kita internal game," terangnya.
Bermain memihak skuad Garuda Putri membuatnya sedikit canggung. Sebab, dia berjumpa dengan para penggawa Timnas nan usianya di atasnya.
Meski begitu, dia mengaku betah. Menurutnya, seniornya di timnas baik dan asyik. Bahkan ngemong ke juniornya. Bahkan, Asyifa telah mempunyai sahabat baru.
"Punya kawan baru seperti Aila, Aliya, Dela, Lintang, azumi, Manda, Indira, Dian, Fadhila, Keisya. Banyak sih, paling dekat dengan Indira dan Dian," ucapnya.
Sepekan berada di Prancis, banyak pelajaran nan didapatkannya, mulai dari bermain bola hingga tidur teratur.
Perempuan asal Kudus itu juga merasakan perbedaan kala dilatih oleh Coach Timo Scheunemann. Menurutnya, style kepelatihan Timo selama melatih Timnas Indonesia Wanita U-17 lebih tegas dibandingkan ketika melatih para peserta MilkLife Soccer Challenge.
"Selama di timnas, Coach Timo lebih tegas. Saya pernah diomelin gara-gara salah passing," ucapnya.
Selama di Prancis, Asyifa banyak menyantap kuliner nan menggoyang lidah, mulai dari ayam, yoghurt, buah, dan telur.
"Semuanya enak-enak, tetapi nggak ada nasi," ujarnya sembari tertawa.
Pengalaman memandang kue Croissant dialaminya. Akan tetapi, menurut dia lidahnya kurang cocok dengan kue unik Prancis itu. Sebab, tekstur kue Croissant begitu keras.
"Saya lihat teman-teman makan Croissant baru gigit saja sudah keras banget. Jadi nggak aja deh," jelasnya.
Pengalaman kocak juga pernah dialaminya selama berada di Prancis. Asyifa pernah meninggalkan kunci bilik hotel di dalam kamar. Alhasil dia kudu meminta tolong agar bisa membuka kamarnya dari luar.
"Akhirnya minta tolong agar dibukakan menggunakan kartu lainnya," kata Asyifa.
Adaptasi soal cuaca juga menjadi tantangan baginya selama di Prancis. Terlebih cuaca di Indonesia berbeda jauh dengan Prancis. Apalagi, kala itu suhunya mencapai enam derajat.
"Kaget banget lantaran biasa cuaca panas. Tetapi tetap bisa adaptasi," ungkapnya.
Keinginan bermain di Eropa tetap menjadi mimpinya. Utamanya bermain untuk klub sepakbola Real Madrid putri. Alasannya dirinya menyukai Real Madrid lantaran sosok Federico Valverde.
"Saya ada pemain favorit Real Madrid berjulukan Federico Valverde. Alasannya lantaran mempunyai tendangan nan kencang banget," pungkas Asyifa.
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·