Ilustrasi(magnifik)
PROTEIN menjadi salah satu unsur gizi nan dibutuhkan tubuh. Namun, jumlah protein nan dikonsumsi rupanya mempunyai hubungan berbeda dengan kesehatan dan risiko kematian berasas usia. Hal ini terlihat dalam penelitian nan menganalisis hubungan asupan protein dengan kesehatan pada orang dewasa.
Penelitian nan dipimpin Morgan E. Levine terhadap 6.381 orang berumur 50 tahun ke atas menemukan adanya perbedaan hubungan antara asupan protein dan akibat kematian pada golongan usia nan berbeda.
Pada usia 50-65 tahun, konsumsi protein nan lebih tinggi berangkaian dengan akibat kematian nan lebih tinggi, termasuk kematian akibat kanker. Sebaliknya, pada golongan berumur 66 tahun ke atas, asupan protein nan lebih tinggi justru berangkaian dengan akibat kematian nan lebih rendah.
Dalam penelitian tersebut, peserta dikelompokkan berasas persentase kalori nan berasal dari protein. Asupan protein tinggi berfaedah 20 persen alias lebih dari kalori harian berasal dari protein, sedangkan asupan rendah berfaedah kurang dari 10 persen.
Angka tersebut digunakan untuk membagi golongan penelitian, bukan sebagai pemisah bahwa protein pada tingkat tertentu secara langsung menyebabkan kanker.
Pembatasan Protein Berbeda Berdasarkan Usia
Temuan tersebut sejalan dengan ulasan Hamed Mirzaei, Rachel Raynes, dan Valter D. Longo mengenai pembatasan protein dan penuaan. Mereka menjelaskan bahwa penelitian pada ragi dan lalat menunjukkan pembatasan masam amino dapat memperpanjang umur.
Pada hewan pengerat, pembatasan protein juga dikaitkan dengan umur lebih panjang dan berkurangnya sejumlah akibat penuaan.
Asam amino merupakan komponen penyusun protein. Dalam ulasan tersebut, perubahan kesiapan masam amino disebut dapat memengaruhi jalur penginderaan nutrisi nan berangkaian dengan metabolisme, pertumbuhan, respons terhadap stres, dan penuaan. Karena itu, perubahan asupan protein dapat memengaruhi proses-proses tersebut.
Namun, sebagian besar temuan mengenai pembatasan protein dan umur panjang berasal dari organisme model, sehingga tidak dapat langsung disamakan dengan manusia.
Pada usia lanjut, pembatasan protein juga perlu diperhatikan. Ulasan tersebut menyebut orang berumur di atas 65 tahun tidak mendapatkan faedah nan sama dari pembatasan protein dan berpotensi mengalami kerugian akibat penyusutan otot.
Penelitian pada tikus tua turut menunjukkan bahwa diet dengan kadar protein sangat rendah dapat menyebabkan penurunan berat badan.
Dengan demikian, mengurangi protein belum bisa dikatakan sebagai langkah pasti untuk memperpanjang umur manusia.
Penelitian justru menunjukkan bahwa dampaknya dapat berbeda menurut usia, sehingga pembatasan protein tidak dapat diterapkan dengan langkah nan sama pada semua orang.
Sumber: PubMed Central (NIH)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·