Astronom Temukan Fenomena Aneh Awan Segi 10 Raksasa di Kutub Selatan Saturnus

Sedang Trending 2 hari yang lalu
Astronom Temukan Fenomena Aneh Awan Segi 10 Raksasa di Kutub Selatan Saturnus Kutub selatan Saturnus seperti nan diabadikan oleh Teleskop Luar Angkasa Hubble pada Agustus 2025.(NASA, ESA, A. Sánchez-Lavega (Universitas Basque Country, EHU))

PARA astronom menemukan pola awan raksasa berkonfigurasi segi 10 (dekagon) misterius nan baru terbentuk di sekitar kutub selatan Saturnus. Struktur baru ini menyamai keberadaan pola segi enam (heksagon) raksasa nan telah diamati selama puluhan tahun di kutub utara planet bercincin tersebut.

Pola heksagon di utara Saturnus, dengan lebar sekitar 32.000 kilometer, pertama kali ditemukan pada 1988 melalui info penerbangan wahana Voyager milik NASA. Namun kini, para intelektual menemukan struktur nan jauh lebih besar di kutub selatan. Dekagon nan baru terdeteksi ini mempunyai lebar sekitar 167.820 kilometer, dengan masing-masing dari 10 sisinya membentang sepanjang 16.782 kilometer.

"Ini adalah kejadian atmosfer nan sangat tidak biasa dan membantu kita memajukan pemahaman tentang meteorologi secara umum," ungkap penulis utama studi, Agustin Sanchez-Lavega, seorang intelektual planet dari University of the Basque Country di Bilbao, Spanyol. "Fenomena ini memberi tahu kita bahwa heksagon bukanlah fitur tunggal nan unik seperti nan diperkirakan sebelumnya."

Terkuak Lewat Potret Teleskop Hubble

Penemuan ini terungkap berkah kajian gambar terbaru dari Teleskop Luar Angkasa Hubble milik NASA. Karena kemiringan poros Saturnus, bagian bumi selatan planet tersebut tidak terlihat dari Bumi selama periode 2012 hingga 2023. Begitu gambaran Hubble tahun 2023 dianalisis, keberadaan dekagon tersebut baru terlihat untuk pertama kalinya.

"Ini tentu saja mengejutkan," kata Sanchez-Lavega. Ia menyebut bahwa sejak heksagon ditemukan di utara, dia dan koleganya rutin memeriksa foto-foto Saturnus "untuk memandang apakah ada susunan poligonal di selatan. Dan sebelumnya tidak ada tanda-tandanya."

Struktur dekagon ini bergerak sangat lambat, memerlukan waktu sekitar 800 hari untuk menyelesaikan satu kali rotasi mengelilingi Saturnus.

Simulasi komputer menunjukkan dekagon terbentuk akibat gelombang berkelok nan terperangkap oleh arus jet atmosfer nan melengkung. Berbeda dengan heksagon nan tingkat kegelapan sisinya konstan, dekagon mempunyai tingkat kegelapan nan bervariasi, mengindikasikan struktur ini tetap terus berkembang.

"Kami perlu memahami gimana dekagon ini berkembang, dengan kata lain, apakah dalam beberapa tahun ke depan dia bakal menjadi tidak stabil dan hancur, alias sebaliknya, menjadi lebih stabil dan kuat seiring meningkatnya radiasi matahari, nan bakal mencapai puncaknya di garis lintang sekitar 60 derajat selatan pada tahun 2032," jelas Sanchez-Lavega.

Temuan mendalam para peneliti mengenai kejadian ini telah diterbitkan dalam jurnal Science Advances. (Space/Z-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia