Aspal Merah Putih Segera Meluncur, Menteri PU Kasih Bocoran Harganya

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo mengungkap rencana pemerintah meluncurkan produk aspal berjulukan Aspal Merah Putih. Produk tersebut merupakan campuran antara aspal Buton (Asbuton) dan aspal milik Pertamina.

Dody mengatakan, penggunaan Asbuton sendiri didorong salah satunya untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor aspal. Namun, pemerintah tidak mau penggunaan Asbuton justru membikin biaya pembangunan jalan meningkat.

"Ya jadi kita meluncurkan aspal buton itu kan sebenarnya, tujuannya nan pertama, bahwa kita tidak lagi impor aspal. Nanti mungkin dalam beberapa hari lagi kita bakal meluncurkan Aspal Merah Putih," kata Dody dalam konvensi pers di Hotel The Ritz-Carlton Jakarta, Rabu (12/8/2026).

"Aspal Merah Putih itu ya aspal Buton (Asbuton), tapi Pertamina kan punya aspal dari cairan, itu dari hasil dia mengolah minyak buminya nan dia beli. Nah itu kelak kita kombinasi dengan aspal Buton. Nanti kita sebut sebagai Aspal Merah Putih. Ini bocoran sedikit, kelak mungkin setelah 17 Agustus lah kita luncurkan," sambungnya.

Menurut Dody, Asbuton sebenarnya bukan material baru lantaran sudah digunakan sejak lama. Namun, salah satu persoalan nan muncul adalah harganya nan dinilai terlalu mahal.

Karena itu, dia menegaskan penggunaan Asbuton ke depan tetap kudu masuk secara ekonomis. Pemerintah tidak mau kebijakan tersebut membikin biaya nan kudu ditanggung masyarakat meningkat.

"Aspal Buton ini kan sebetulnya bukan peralatan baru, kan dari dulu juga ada. Tapi mungkin jika dulu harganya kemahalan dan seterusnya. Nah sekarang saya nggak mau begitu, jikalau kita menggunakan aspal Buton, dengan beragam macam argumen gitu kan, baik itu argumen impor kemudian argumen teknis dan seterusnya, itu ya tetap dari sisi ekonomisnya kudu masuk," jelas dia.

Dody mengatakan, nilai Aspal Merah Putih nantinya ditargetkan minimal sama dengan nilai aspal nan digunakan saat ini. Bahkan, dia berambisi harganya bisa turun sekitar 10%-20%.

"(Harga Aspal Merah Putih) idealnya kudu sama dengan aspal nan ada saat ini. Kan sama-sama juga namanya aspal, barangnya itu-itu saja, tapi kan lantaran di sini ada mineral, kan jika aspal Buton itu kan mineral bukan cairan lagi. Jadi harapannya ada turun sedikit lah, (harganya) bisa turun 10%-20%, tapi belum, itu tetap suatu perihal nan kelak para penyedia jasa nan bakal menawarkan," ujar Dody.

Dia menegaskan, pemerintah tidak mau penggunaan Asbuton membikin tarif nan dibayarkan masyarakat meningkat. Selain itu, biaya material nan terlalu tinggi juga dikhawatirkan membebani APBN.

"Supaya kemudian tarif nan untuk masyarakat itu tidak perlu nambah, untuk sesuatu nan sebetulnya nggak terlalu penting-penting amat, lantaran sudah ada aspal cair sebelumnya kan. Nah itu nan saya juga nggak mau," tuturnya.

"Makanya, aspal Buton alias nan kita sebut Aspal Merah Putih, nan bakal kita pakai ke depan, itu minimal (harganya) sama, alias jika bisa saya bakal coba turunkan menjadi di bawah (harga) aspal hari ini. Sehingga biaya teman-teman BUJT (Badan Usaha Jalan Tol) juga turun, dan APBN kita juga nggak terganggu," kata dia.

Dody menjelaskan, aspal tersebut digunakan di beragam jenis jalan, baik jalan tol maupun jalan nasional. Karena itu, andaikan harganya terlalu tinggi, beban terhadap APBN juga bakal meningkat.

"Karena kan aspal ini kita pakai di mana-mana, ya jalan tol, jalan nasional kita juga pakai. Kalau misalnya aspal ini ketinggian (harganya), kelak APBN saya jebol. Jadi masalah baru besar bagi saya. Jadi itu suatu perihal nan saya bakal kerjakan, dengan kemudian meluncurkan Aspal Merah Putih, nan terdiri dari aspal Buton dan aspalnya Pertamina," jelasnya.

Dody juga menekankan agar kebijakan penggunaan Asbuton tidak disertai patokan baru nan justru meningkatkan biaya produksi.

"Cuma saya tekankan itu, jangan sampai kemudian ada patokan baru, nan kemudian meningkatkan biaya produksi. Itu nggak boleh sama sekali," pungkasnya.

(wur) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News