Asosiasi Sarankan Skema Sewa Atap Atasi Masalah Lahan Pembangunan PLTS 100 GW

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Pekerja memeriksa Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) genting di Rusunawa Cipta Griya Kedaung, Kota Tangerang, Banten, Kamis (30/4/2026). Foto: Putra M. Akbar/ANTARA FOTO

Ketua Dewan Pakar Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI), Herman Darnel, mengakui persoalan lahan memang menjadi salah satu tantangan dalam pembangunan PLTS 100 GW. Untuk mengatasi itu, dia menyarankan salah satunya lewat skema sewa genting untuk penempatan panel surya.

“Memang prioritas lahan itu adalah rooftop dulu. Rooftop itu nan diperlukan mungkin sekarang adalah saya punya pemikiran untuk rooftop ini dan mungkin udah ada di tempat lain, kelak orang nan pasang listrik PLTS di rumahnya itu enggak perlu nan punya," kata Herman dalam media briefing IESR di Jakarta pada Kamis (6/8).

"Jadi nan punya itu bisa sebuah perusahaan swasta nan melakukan upaya itu dan dia nan berdagang ke PLN alias PLN sendiri,” tambahnya.

Selain itu, ada 5 skema lain nan menurutnya bisa digunakan untuk menempatkan panel surya dalam program PLTS 100 GW. Tempat-tempat tersebut meliputi area industri, waduk, jejak tambang, lahan kritis, sampai lahan tidak produktif.

Namun, Herman memandang penempatan panel surya dengan skema sewa genting masyarakat menjadi perihal nan bisa diprioritaskan. Ia juga mengungkapkan ada beberapa lahan nan semestinya tak menjadi tempat panel surya dalam program tersebut.

“Nah jadi nan kudu dihindari sewa lahan produktif, area om sama area konservasi. Nah ini juga perihal nan perlu diinventarisasi,” ujar Herman.

Herman berambisi program pembangunan PLTS 100 GW tersebut tak hanya menetapkan sasaran besaran produksi, tetapi juga perincian letak nan bisa digunakan untuk penempatan akomodasi seperti panel surya.

“Ini kritik kami dari AESI, artinya tidak ditentukan di mana titiknya. Jadi kudu ditentukan paling tidak jika tidak titiknya kabupaten alias kotanya lah di mana gitu loh,” kata Herman.

Potensi Investasi Berbentuk Pabrik

Terkait potensi investasi, Herman juga menjelaskan rencana pembangunan PLTS 100 GW bisa menarik minat banyak perusahaan untuk membangun panel surya. Utamanya adalah perusahaan-perusahaan nan berasal dari China nan sekarang turut menjadi pemasok panel surya.

Herman percaya semakin banyak penanammodal berkeinginan lantaran rencana tersebut juga sudah diumumkan langsung oleh Presiden Prabowo.

“Nah kita ini, saya nan ceria dengan 100 GW ini, 100 GW ini bakal menjanjikan, China bisa bangun pabrik panel surya. Kalau kita nggak punya deklarasi 100 GW, penanammodal tuh kan takut juga, paling-palingnya jika bangun di sini untuk diekspor, tapi ini untuk keperluan lokal,” tutur Herman.

Presiden Prabowo Subianto menyimak pidato Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (6/8/2026). Foto: YouTube/ Sekretariat Presiden

Sebelumnya, Prabowo menargetkan pembangunan PLTS 100 GW itu bisa rampung dalam 1 tahun. Hal ini seiring dengan transformasi menuju daya baru terbarukan (EBT).

Prabowo menilai, beragam skenario akibat bentrok Timur Tengah terhadap perekonomian nasional memang kudu disiapkan, nan sekaligus dapat mempercepat agenda transformasi termasuk mencapai swasembada energi.

"Menurut saya krisis justru mempercepat rencana transformasi kita. Akhirnya kita dipaksa akselerasi. Kita sudah mengerti masalahnya. Dari dulu kita mau swasembada pangan swasembada energi. Kita sudah mengarah ke situ. Tapi sekarang bakal mempercepat," ungkapnya saat Sidang Kabinet Paripurna, Jumat (13/3).

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan