Jakarta, CNBC Indonesia - Kebijakan work from home (WFH) satu hari dalam sepekan tak hanya berakibat pada pola kerja, tetapi juga menciptakan kesempatan bagi sejumlah sektor usaha. Di tengah pembatasan mobilitas, upaya berbasis digital justru menjadi pihak nan paling diuntungkan.
Sekretaris Jenderal Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), Anggawira memproyeksikan, sektor teknologi dan jasa digital mengalami peningkatan permintaan saat WFH diterapkan.
"Ada sektor nan justru bisa diuntungkan (saat WFH diberlakukan), seperti teknologi digital, telekomunikasi, e-commerce, jasa cloud, platform meeting online, co-working fleksibel, hingga upaya penunjang rumah tangga seperti delivery makanan dan groceries," ungkap Anggawira kepada CNBC Indonesia, Minggu (12/4/2026).
Ia menilai, ketika mobilitas menurun maka kebutuhan jasa berbasis digital biasanya meningkat.
"Ini nan kudu dilihat sebagai momentum untuk mempercepat transformasi digital di bumi usaha," ujarnya.
Namun di kembali kesempatan tersebut, sejumlah sektor upaya justru menghadapi tantangan besar. Terutama sektor nan sangat berjuntai pada kehadiran bentuk pekerja dan aktivitas lapangan.
Foto: Sejumlah Aparatur Sipil Negara (ASN) menyelesaikan pekerjaannya di Gedung Balai Kota DKI Jakarta, Rabu (1/4/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Sejumlah Aparatur Sipil Negara (ASN) menyelesaikan pekerjaannya di Gedung Balai Kota DKI Jakarta, Rabu (1/4/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
"Keluhan nan paling banyak muncul biasanya dari pelaku upaya nan operasionalnya sangat berjuntai pada kehadiran bentuk pekerja, seperti manufaktur, logistik, transportasi, konstruksi, ritel, hospitality, makanan dan minuman, hingga sektor jasa nan memerlukan hubungan langsung dengan konsumen. Sektor-sektor ini tidak mungkin sepenuhnya menerapkan WFH lantaran proses bisnisnya berkarakter on-site dan berbasis operasional lapangan," jelasnya.
Karena itu, Anggawira menilai kebijakan WFH tidak bisa diterapkan secara seragam di semua sektor. Fleksibilitas menjadi kunci agar kebijakan ini tidak mengganggu aktivitas ekonomi secara keseluruhan.
"Terkait kebijakan WFH bagi ASN, BUMN, BUMD, maupun imbauan kepada sektor swasta, pada prinsipnya bumi upaya memahami bahwa pemerintah sedang berupaya melakukan langkah antisipatif untuk mengurangi konsumsi BBM dan mobilitas di tengah tekanan geopolitik global, terutama akibat kenaikan nilai daya dan potensi gangguan pasokan," kata dia.
Anggawira menambahkan, bumi upaya pada dasarnya mendukung upaya efisiensi energi, namun tetap mengingatkan agar produktivitas tidak terganggu.
"Namun bagi bumi usaha, kebijakan ini kudu dijalankan secara selektif, fleksibel, dan tidak bisa disamaratakan untuk semua sektor. Pengusaha tentu mendukung langkah efisiensi energi, tetapi tetap kudu dijaga agar produktivitas dan aktivitas ekonomi tidak terganggu terlalu besar," tegasnya.
Sebelumnya, pemerintah resmi memberlakukan kebijakan WFH satu hari dalam sepekan bagi aparatur sipil negara (ASN), ialah setiap Jumat mulai 1 April 2026. Kebijakan ini diambil sebagai langkah antisipasi akibat rambatan bentrok di Timur Tengah nan memicu gejolak nilai daya global.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan, kebijakan tersebut merupakan bagian dari transformasi budaya kerja nasional.
"Penerapan WFH ASN di pusat dan wilayah 1 hari kerja tiap Jumat," kata Airlangga saat konvensi pers secara daring, Selasa malam (31/3/2026).
Sementara itu, pada Rabu (1/4/2026), Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli menetapkan pekerja swasta, BUMN, dan BUMD juga mengikuti kebijakan WFH satu hari kerja dalam sepekan, namun berkarakter imbauan.
"Pelaksanaan WFH tidak mengurangi libur tahunan. Bagi pekerja alias pekerja nan melaksanakan WFH tetap menjalankan pekerjaan sesuai tugas dan kewajibannya," kata Yassierli dalam konvensi pers di kantornya, Jakarta.
Ia juga menegaskan, sejumlah sektor dikecualikan dari kebijakan ini, seperti sektor kesehatan, energi, industri, transportasi, serta makanan dan minuman, demi menjaga kelangsungan operasional dan jasa kepada masyarakat.
(tya/wur)
[Gambas:Video CNBC]
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·