Amerika Serikat (AS) menuding China memanfaatkan sejumlah negara sebagai jalur untuk menghindari tarif impor nan diberlakukan Washington. Negara nan disebut dalam laporan Gedung Putih antara lain Kanada, India, Meksiko, Jepang, dan Korea Selatan.
Mengutip BBC, Gedung Putih memperkirakan peralatan senilai USD 30 miliar alias sekitar Rp 534,84 triliun (kurs Rp 17.828) hingga USD 300 miliar alias Rp 5,35 kuadriliun telah dialihkan dari negara dengan tarif tinggi melalui negara nan menerapkan bea masuk lebih rendah.
Praktik tersebut dikenal sebagai transshipping, ialah pengiriman peralatan melalui negara ketiga sebelum mencapai negara tujuan akhir. AS menilai China memanfaatkan sistem ini untuk menyamarkan asal peralatan dan mendapatkan tarif nan lebih rendah.
Menurut Gedung Putih, peralatan asal China dikirim melalui negara ketiga, kemudian dikemas ulang alias diproses dengan arsip nan membikin asal peralatan sebenarnya menjadi susah dilacak. Pemerintah AS menyebut praktik itu sebagai “penipuan nan disamarkan melalui dokumen”.
Penasihat perdagangan Gedung Putih Peter Navarro menilai praktik tersebut berakibat langsung terhadap perekonomian AS. Ia mengatakan praktik tersebut telah menyebabkan “lapangan kerja bagi penduduk Amerika dan pendapatan miliaran dolar” hilang.
Di sisi lain, China membantah tuduhan tersebut. Juru bicara Kedutaan Besar China di Washington mengatakan bahwa “perang jual beli tidak mempunyai pemenang” dan China menentang kebijakan tarif AS serta penggunaan kekuasaan negara untuk menargetkan perusahaan-perusahaan China.
“Setiap tindakan alias kesepakatan sepihak mengenai peralatan nan dikirim melalui negara lain tidak boleh menargetkan alias merugikan kepentingan pihak ketiga,” tambah ahli bicara tersebut.
Gedung Putih juga menyoroti skala jaringan transshipment nan disebut semakin kompleks. Dalam laporannya, pemerintah AS menyebut perubahan dalam praktik tersebut tidak hanya terlihat dari kecepatan dan skalanya, tetapi juga dari semakin luas dan canggihnya jaringan nan digunakan untuk menghindari tarif.
“Apa nan berubah dalam Great Transshipment Scam saat ini bukan hanya kecepatan dan skala corak penyelundupan modern ini, tetapi juga luas, kedalaman, dan kecanggihan Jaringan Transshipment Bayangan dunia nan menjadi jalur penghindaran tarif China,” tulis Gedung Putih dalam laporannya.
Untuk mengidentifikasi praktik tersebut, Gedung Putih mengatakan AS telah memanfaatkan teknologi kepintaran buatan (AI) untuk mendeteksi upaya transshipping.
Laporan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan perdagangan antara AS dan China. Publikasi tersebut juga terjadi beberapa pekan sebelum Presiden AS Donald Trump dijadwalkan berjumpa dengan Presiden China Xi Jinping di Washington.
BBC telah menghubungi kedutaan besar AS di Kanada, India, Meksiko, Jepang, Korea Selatan, serta sejumlah mitra jual beli lain nan tercantum dalam laporan tersebut untuk meminta tanggapan.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·