Presiden AS Donald Trump berbareng Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu(SAUL LOEB / AFP)
PEMERINTAH Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump mengaku tidak mengkhawatirkan penolakan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terhadap rencana perdamaian Gaza. Gedung Putih menilai retorika penolakan tersebut sekadar bagian dari kampanye politik domestik Israel.
Situs buletin Axios melaporkan pada Senin (10/8), mengutip pernyataan seorang pejabat tinggi Gedung Putih nan enggan disebutkan namanya.
"Kami memahami kebutuhan politik Bibi (Netanyahu). Kami tidak mempermasalahkannya selama dia terus melakukan apa nan kami minta, terutama mengenai pembatasan serangan di Gaza," ujar pejabat Gedung Putih tersebut.
Sebelumnya pada Minggu (9/8), Netanyahu secara terbuka mengumumkan bahwa Israel menolak rencana 15 poin nan disusun oleh Dewan Perdamaian untuk Jalur Gaza. Netanyahu menegaskan militer Israel (IDF) tidak bakal menarik diri dari wilayah tersebut sebelum golongan Hamas dilucuti senjatanya secara total.
Kendati melontarkan penolakan di hadapan publik, laporan The New York Times mengungkapkan bahwa para pejabat Hamas meyakini Israel sebenarnya tetap terus berkoordinasi dengan Dewan Perdamaian.
Menurut sumber pejabat tersebut, Netanyahu sempat menggelar pembicaraan via telepon dengan Utusan Khusus Presiden AS, Jared Kushner, pada pekan lalu. Dalam percakapan tersebut, Netanyahu berjanji bakal memberikan kesempatan bagi penerapan rencana 15 poin tersebut, terlepas dari rasa skeptis nan dia miliki.
Netanyahu juga berkomitmen untuk membatasi intensitas serangan militer ke Gaza agar proses demiliterisasi area dapat segera dimulai.
Sejak 9 Oktober 2025, Israel dan Hamas melalui mediasi internasional nan melibatkan Mesir, Qatar, Amerika Serikat, dan Turkiye telah menyepakati penyelenggaraan tahap pertama dari rencana perdamaian nan digagas Presiden Donald Trump.
Gencatan senjata resmi diberlakukan sehari setelah kesepakatan tersebut dicapai. Sesuai perjanjian, pasukan militer Israel diinstruksikan mundur hingga ke area nan disepakati sebagai "garis kuning".
Meski telah melakukan penarikan berjenjang seusai kesepakatan tersebut, Israel hingga sekarang tercatat tetap mempertahankan kendali militer atas lebih dari 50 persen total wilayah Jalur Gaza. (Ant/Sputnik/RIA Novosti /P-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·