AS Serang Qeshm, Bagaimana Pulau Benteng itu Kendalikan Selat Hormuz?

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
AS Serang Qeshm, Bagaimana Pulau Benteng itu Kendalikan Selat Hormuz? Ilustrasi.(Al Jazeera)

MILITER Amerika Serikat (AS) meluncurkan serangan udara terbaru ke Pulau Qeshm, wilayah berbenteng milik Iran di dekat Selat Hormuz, pada Rabu (3/6). Langkah ini diambil di tengah melambatnya jalur diplomasi dan kembalinya serangan Iran terhadap negara-negara tetangganya.

Komando Pusat AS (US Central Command/Centcom) menyatakan bahwa serangan tersebut menargetkan menara kendali darat di Pulau Qeshm sebagai corak pertahanan diri. Pihak AS mengeklaim Iran sebelumnya mencoba menyerang Kuwait dan Bahrain menggunakan rudal, tetapi upaya tersebut gagal.

Warga setempat melaporkan mendengar ledakan keras pada awal hari di pulau seluas 558 mil persegi tersebut. Pulau Qeshm mempunyai nilai strategis tinggi dan telah digunakan sepanjang bentrok untuk menyerang kapal-kapal nan melintasi jalur pelayaran internasional nan vital tersebut.

Benteng Strategis di Selat Hormuz

Secara historis, Pulau Qeshm pernah menjadi pangkalan Angkatan Laut Kerajaan India hingga 1863 sebelum akhirnya dikuasai sepenuhnya oleh Iran. Kini, Teheran mengubah pulau nan dulunya merupakan lokasi wisata gua garam ini menjadi pusat kekuatan militer nan dilengkapi dengan rudal, drone, dan kapal cepat.

Analis pertahanan dari Hudson Institute, Can Kasapoglu, menyebut Qeshm sebagai pusat penolakan utama (primary denial hub) bagi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Data satelit menunjukkan Iran telah menempatkan sebagian besar rudal antikapal mereka di posisi peluncuran bawah tanah nan dikenal sebagai kota rudal.

Analisis Strategis: Para master militer menilai invasi darat ke Qeshm bakal menjadi pertempuran nan sangat susah bagi AS. Selain medannya nan berat, kedekatan pulau ini dengan daratan utama Iran memungkinkan Teheran mengirimkan bala support secara terus-menerus.

Diplomasi di Ujung Tanduk

Serangan ini terjadi saat Presiden Donald Trump berupaya mendorong kesepakatan tenteram untuk mengakhiri pertempuran sejak pertengahan Maret lalu. Trump menegaskan prioritas utamanya adalah mencegah Iran memperoleh senjata nuklir, sementara Teheran menuntut pencabutan blokade pelabuhan dan akses ke miliaran dolar pendapatan minyak nan dibekukan.

Meskipun pejabat senior AS menyatakan bahwa serangan terbaru ini bukan berfaedah pembatalan perjanjian gencatan senjata, eskalasi di lapangan menunjukkan situasi nan semakin rapuh. Selain Qeshm, Pulau Kharg nan menangani 90 persen ekspor minyak Iran juga menjadi titik krusial nan diawasi ketat oleh intelijen AS.

Hingga saat ini, Selat Hormuz tetap menjadi titik panas dunia lantaran dilewati oleh seperlima lampau lintas minyak dan gas alam cair dunia. Gangguan lebih lanjut di wilayah ini dikhawatirkan bakal memicu lonjakan nilai daya dunia dan memperburuk stabilitas ekonomi di area Timur Tengah. (The Independent/I-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia