AS "Sekarat", Perang Iran Kosongkan Gudang Senjata Pentagon

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Persediaan rudal jarak jauh berpresisi tinggi milik Amerika Serikat (AS) dilaporkan terkuras drastis setelah lima bulan perang melawan Iran. Tiga sumber nan mengetahui info internal tersebut mengatakan Angkatan Darat AS telah menggunakan sebagian besar stok dunia rudal andalannya, memunculkan kekhawatiran mengenai kesiapan militer Washington menghadapi bentrok lain di masa depan.

Menurut sumber-sumber Reuters, dilansir Selasa (4/8/2026), senjata nan paling banyak digunakan adalah rudal permukaan-ke-permukaan Army Tactical Missile Systems (ATACMS) dan Precision Strike Missiles (PrSM). Dua dari tiga sumber apalagi menyebut AS telah menggunakan "hampir seluruh" persediaan kedua jenis rudal tersebut.

Tingkat penurunan stok ATACMS dan PrSM ini sebelumnya belum pernah dilaporkan secara luas.

ATACMS dan PrSM merupakan bagian krusial dari arsenal militer AS. Rudal-rudal tersebut memungkinkan serangan presisi dari jarak kondusif tanpa kudu mengirim pesawat tempur alias pembom berawak ke wilayah musuh.

ATACMS nan dipasok AS juga memainkan peran krusial dalam perang Ukraina lantaran memungkinkan pasukan Ukraina menyerang sasaran di dalam wilayah Rusia. Sementara itu, PrSM merupakan generasi baru nan lebih canggih dan dirancang untuk menggantikan ATACMS nan mempunyai jangkauan lebih pendek.

Penggunaan besar-besaran rudal presisi jarak jauh selama perang Iran membikin Presiden Donald Trump berpotensi kudu lebih mengandalkan operasi pengeboman menggunakan pesawat berawak nan dinilai lebih berisiko jika memutuskan melanjutkan serangan berskala besar terhadap Iran.

Meski demikian, para sumber menolak mengungkap berapa jumlah ATACMS maupun PrSM nan tetap tersisa di penyimpanan senjata AS.

Adapun Trump meluncurkan perang terhadap Iran berbareng Israel pada Februari lalu. Saat itu dia memprediksi bentrok tersebut bakal berjalan singkat.

Namun, seiring perang nan terus berlanjut, ketiga sumber nan mengetahui persoalan tersebut mengaku cemas menurunnya persediaan rudal dapat membatasi keahlian AS dalam memberikan pengaruh pencegahan terhadap musuh potensial, termasuk Rusia dan China.

Sumber keempat nan juga mengetahui situasi itu mengatakan bahwa meskipun penggunaan senjata presisi sangat tinggi, AS tetap mempunyai keahlian untuk mengisi kembali persediaannya.

Menurut sumber tersebut, Komando Pusat AS (CENTCOM) nan mengawasi operasi militer AS di Timur Tengah tetap dapat mengisi ulang persediaan dengan mengambil stok dari pangkalan-pangkalan militer AS di beragam wilayah dunia.

Menanggapi pertanyaan mengenai info persediaan rudal tersebut, Gedung Putih merilis pernyataan dari Trump. Trump menegaskan bahwa AS tetap mempunyai jumlah amunisi nan jauh lebih besar dibanding negara mana pun di dunia.

"Kami mempunyai jauh lebih banyak amunisi dibanding siapapun di dunia, dan jauh lebih banyak daripada nan kami butuhkan," kata Trump.

Ia juga mengatakan industri pertahanan AS saat ini sedang memproduksi amunisi dalam jumlah terbesar sepanjang sejarah.

"Perusahaan-perusahaan pertahanan kami saat ini memproduksi lebih banyak amunisi daripada sebelumnya, sembari memperluas akomodasi dan peralatan mereka pada tingkat nan memecahkan rekor," ujarnya.

Para analis umumnya sepakat bahwa produksi sejumlah jenis amunisi, termasuk peluru artileri dan beragam jenis rudal, memang berada pada tingkat tertinggi dalam sejarah. Namun mereka mengingatkan bahwa pasokan tersebut bisa saja tidak cukup andaikan AS kudu menghadapi perang berkepanjangan.

Lockheed Martin, produsen ATACMS, PrSM, dan sistem pertahanan rudal THAAD, belum memberikan tanggapan atas pertanyaan mengenai pernyataan Trump maupun kondisi pasokan senjata tersebut.

Raytheon, kreator rudal Tomahawk dan pencegat Patriot, nan merupakan dua senjata krusial milik AS, juga belum memberikan komentar.

Sementara itu, ahli bicara utama Pentagon Sean Parnell menegaskan bahwa militer AS tetap mempunyai seluruh keahlian nan diperlukan untuk menjalankan operasi militer kapan pun diperintahkan presiden.

"Militer Amerika adalah nan paling kuat di bumi dan mempunyai segala nan dibutuhkan untuk melaksanakan operasi pada waktu dan tempat nan dipilih Presiden. Kami telah menjalankan beragam operasi nan sukses di beragam komando tempur sembari memastikan militer AS tetap mempunyai arsenal keahlian nan besar untuk melindungi rakyat dan kepentingan kami," kata Parnell.

Meski demikian, info mengenai stok senjata tersebut disebut telah beredar di dalam pemerintahan federal selama sepekan terakhir.

Salah satu sumber mengatakan berkurangnya stok ATACMS dan PrSM mencerminkan keputusan pemerintahan Trump untuk menghindari metode serangan nan lebih berisiko terhadap sasaran di Iran.

Alih-alih menggunakan pesawat berawak untuk menjatuhkan peledak secara langsung, Washington lebih memilih menggunakan rudal jarak jauh berpresisi tinggi.

Karena memungkinkan serangan dari jarak aman, para analis menilai rudal-rudal tersebut bakal sangat berbobot jika AS kudu menghadapi negara dengan sistem pertahanan udara kuat seperti China.

Menurut laporan Center for Strategic and International Studies (CSIS) pada Maret lalu, rudal-rudal itu juga telah digunakan untuk menyerang target-target di dalam Iran.

Laporan tersebut menyebut stok PrSM memang sejak awal tidak terlalu besar lantaran merupakan senjata nan relatif baru. Namun militer AS telah memesan sejumlah besar rudal itu untuk pengiriman pada 2027.

Angkatan Darat AS juga telah menyatakan bahwa ATACMS bakal dihentikan secara berjenjang dan produksinya dialihkan ke PrSM.

Selain rudal serang, para pemimpin militer juga telah berulang kali memperingatkan Trump bahwa stok senjata pertahanan mulai menipis.

Dua sumber mengatakan persediaan pencegat Patriot nan digunakan untuk menghadapi rudal balistik mengalami penyusutan signifikan.

CSIS pekan sekitar 65% stok pencegat Patriot telah digunakan antara Februari hingga Juli.

Lembaga itu juga memperkirakan jumlah pencegat rudal balistik THAAD dalam persediaan AS turun setidaknya 38% dibandingkan awal perang.

Patriot dan THAAD merupakan sistem pertahanan nan berfaedah mendeteksi serta menghancurkan rudal nan datang dan termasuk di antara senjata pertahanan paling efektif nan dimiliki AS.

Dua sumber mengatakan nomor dalam laporan CSIS sesuai dengan info internal pemerintah AS.

Selain itu, salah satu sumber menyebut AS juga telah menghabiskan sedikit kurang dari separuh stok dunia rudal jelajah Tomahawk sejak perang dimulai.

Pekan lalu, sejumlah media melaporkan bahwa Trump memutuskan untuk tidak melancarkan serangan besar tambahan ke Iran lantaran penasihat militernya memperingatkan kondisi stok senjata AS.

Namun seorang pejabat AS membantah laporan tersebut dan mengatakan keputusan Trump lebih dipengaruhi tekanan dari negara-negara Teluk.

Konflik Timur Tengah juga memicu perdebatan sengit mengenai kewenangan Trump menjalankan perang terhadap Iran tanpa persetujuan Kongres.

Hingga sekarang tidak ada permintaan deklarasi perang maupun otorisasi penggunaan kekuatan militer nan diajukan ke Kongres.

(luc/luc) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News