Ariana Grande(AFP/Frederic J. Brown)
PENYANYI pop kenamaan asal Amerika Serikat, Ariana Grande, melayangkan protes keras terhadap Gedung Putih setelah salah satu lagunya digunakan tanpa izin dalam video promosi kebijakan imigrasi. Grande secara tegas meminta agar karyanya tidak dikaitkan dengan agenda politik nan dia nilai tidak manusiawi.
Ketegangan ini bermulai ketika sebuah video reel diunggah di akun TikTok resmi Gedung Putih pada Senin (8/6) waktu setempat. Video tersebut menampilkan cuplikan petugas perbatasan nan sedang memborgol sejumlah orang, dengan latar belakang lagu hit Grande tahun 2024 berjudul Bye. Unggahan itu disertai takarir (caption): "Bye-bye... Presiden Trump telah mewujudkan perbatasan paling kondusif dalam sejarah."
Reaksi Keras Ariana Grande
Melalui kolom komentar pada unggahan tersebut, bintang movie Wicked ini menyampaikan keberatannya secara langsung. Grande menuliskan pesan menohok nan mengecam penggunaan musiknya untuk konten tersebut.
"Tolong jangan gunakan musik saya mengenai dengan omong kosong nan biadab, tidak manusiawi, dan biadab ini," tulis Grande.
Merespons kritik tersebut, ahli bicara Gedung Putih, Abigail Jackson, memberikan pernyataan jawaban kepada media AS. Jackson justru membalikkan istilah nan digunakan Grande untuk memihak kebijakan pemerintah.
"Yang sebenarnya biadab, tidak manusiawi, dan biadab adalah para pendatang terlarangan pidana nan telah melukai dan membunuh penduduk negara Amerika nan tidak bersalah," ujar Jackson.
Tindakan Lanjutan dan Konteks Kebijakan
Tidak lama setelah komentar Grande viral, video di akun TikTok tersebut terpantau telah dibisukan (muted) dan komentar sang artis dihapus. Namun, langkah ini memicu reaksi dari netizen nan menyadari hilangnya bunyi latar dan komentar kritis Grande.
Insiden ini terjadi di tengah langkah garang pemerintahan Donald Trump dalam memperketat keamanan perbatasan. Baru-baru ini, Trump menandatangani undang-undang nan menyetujui pendanaan lebih dari US$70 miliar untuk lembaga imigrasi selama sisa masa jabatannya.
Berikut adalah ringkasan info mengenai pendanaan dan daftar musisi nan pernah memprotes penggunaan karya mereka oleh tim Trump:
| Total Anggaran Imigrasi | Lebih dari US$70 Miliar |
| Lagu nan Digunakan (2026) | "Bye" oleh Ariana Grande |
| Artis Lain nan Memprotes | Sabrina Carpenter, ABBA, Céline Dion, Beyoncé |
| Durasi Pendanaan | 2,5 tahun sisa masa kedudukan presiden |
Tren Penolakan Musisi
Ariana Grande menambah panjang daftar musisi nan menolak musik mereka dijadikan perangkat kampanye alias promosi kebijakan Trump. Tahun lalu, Sabrina Carpenter juga menyampaikan keberatan serupa setelah lagunya nan berjudul Juno digunakan dalam kompilasi video operasi ICE (Immigration and Customs Enforcement).
Sebelumnya, nama-nama besar seperti ABBA, Céline Dion, hingga Beyoncé juga telah mendesak tim kampanye Trump agar tidak memutar lagu-lagu mereka dalam rapat umum maupun materi promosi politik lainnya. (bbc/Z-1)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·