Arab Saudi Minta Tolong, China Diam-Diam Tekan Iran soal Houthi

Sedang Trending 59 menit yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - China diam-diam meminta Iran menggunakan pengaruhnya untuk meredam golongan Houthi di Yaman setelah Arab Saudi meminta support Beijing menghadapi serangan sigap golongan nan didukung Teheran tersebut dalam sepekan terakhir.

Permintaan itu disampaikan setelah Houthi bergerak sigap di sepanjang pesisir Laut Merah dan area sekitar Selat Bab el-Mandeb. Pergerakan tersebut membikin jalur pelayaran serta ekspor minyak Arab Saudi semakin rentan, menurut tiga sumber Iran nan mengetahui pembahasan tersebut kepada Reuters.

Secara terbuka, Beijing memang menyerukan semua pihak menahan diri, membuka ruang dialog, dan memulihkan keamanan pelayaran. Namun, menurut ketiga sumber tersebut, pesan nan disampaikan China secara tertutup kepada Iran jauh lebih tegas dibandingkan pernyataan publiknya.

China mau Iran memanfaatkan pengaruhnya terhadap Houthi agar bentrok tidak meluas ke jalur-jalur daya nan sangat krusial bagi Beijing. Sebagai negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia, China sangat berjuntai pada jalur tersebut untuk memenuhi kebutuhan energinya.

Ketiga sumber Iran nan mengetahui pembicaraan tersebut berbincang dengan syarat anonim. Mereka tidak menjelaskan gimana pesan Beijing disampaikan kepada Teheran maupun apakah persoalan itu dibahas saat Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi berjamu ke China pada Rabu (16/9/2026).

Menurut sumber-sumber tersebut, respons Teheran kepada Beijing adalah bahwa stabilitas dan perdamaian di area berjuntai pada berakhirnya perang Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

China juga tidak mengeluarkan ancaman secara terbuka ataupun mengindikasikan bakal memberikan tekanan ekonomi kepada Iran andaikan Teheran kandas menggunakan pengaruhnya terhadap Houthi, kata ketiga sumber Iran tersebut.

Menanggapi permintaan komentar Reuters, Kementerian Luar Negeri China mengatakan Beijing tidak menginginkan ketegangan regional meluas lebih jauh ke Yaman dan Laut Merah.

"China tidak mau memandang ketegangan regional semakin meluas ke Yaman dan Laut Merah. Meningkatnya ketidakstabilan regional bukanlah kepentingan pihak mana pun," kata kementerian tersebut.

"Kedaulatan dan keamanan semua negara kudu dihormati, dan akomodasi nan sangat krusial bagi kehidupan masyarakat tidak boleh menjadi sasaran. China menyerukan penghentian tindakan nan semakin memperumit situasi dan mendesak penyelesaian masalah melalui perbincangan dan negosiasi," lanjutnya.

Ancaman Perang Regional Meluas

China telah menjadi mitra jual beli terbesar Iran selama lebih dari satu dasawarsa dan hingga sekarang merupakan pembeli utama minyak Iran. Data perusahaan kajian komoditas Kpler menunjukkan pembelian China menyumbang lebih dari 80% ekspor minyak Iran melalui jalur laut pada 2025, dengan rata-rata sekitar 1,4 juta barel per hari.

"Beijing adalah salah satu dari sedikit ibu kota nan tetap dapat menekan Iran untuk mengendalikan Houthi," kata seorang diplomat senior Barat di area tersebut.

Houthi muncul pada 1990-an sebagai golongan nan menentang pengaruh keagamaan Sunni Arab Saudi di Yaman. Menurut sumber-sumber Iran dan negara-negara Barat, golongan tersebut memperoleh persenjataan, pelatihan, dan pendanaan dari Iran. Houthi juga menjadi bagian dari apa nan disebut Teheran sebagai "Poros Perlawanan" nan menentang Barat dan Israel.

Ancaman Houthi terhadap kapal-kapal nan melintas di Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb berpotensi memperburuk krisis daya dunia secara signifikan. Situasi tersebut menjadi semakin berisiko setelah Iran mulai memblokade Selat Hormuz, sekaligus meningkatkan kemungkinan bentrok regional nan lebih luas.

Dengan Selat Hormuz nan sudah praktis tertutup, serangan Houthi secara berkepanjangan terhadap kapal alias pelabuhan di Laut Merah dapat mengganggu dua jalur utama ekspor minyak Timur Tengah secara bersamaan.

Kondisi tersebut berpotensi membuka front baru dalam krisis daya sekaligus memperluas konfrontasi Iran dengan Amerika Serikat.

Salah satu sumber mengatakan Iran dan sekutunya sekarang mempunyai keahlian untuk menekan kedua ujung jaringan maritim utama area tersebut.

"China berjuntai pada keduanya," ujar sumber tersebut.

Alex Vatanka, Direktur Program Iran di Middle East Institute di Washington, mengatakan kepentingan China di Timur Tengah jauh lebih luas daripada sekadar hubungannya dengan Iran. Menurutnya, Beijing mungkin menentang tekanan Amerika Serikat terhadap Teheran, tetapi China juga mempunyai kepentingan besar terhadap stabilitas kawasan.

Sekitar separuh dari impor minyak China berasal dari Timur Tengah. Sementara itu, nilai perdagangan antara China dan negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) mencapai sekitar US$300 miliar per tahun.

"Iran dapat mengganggu Hormuz. Namun, pada titik tertentu, pengaruh tersebut mulai merugikan kekuatan nan semakin diandalkan Teheran," kata Vatanka.

Dilema China

Belum jelas apakah Teheran bakal menindaklanjuti kekhawatiran nan disampaikan Beijing, menurut tiga sumber Iran tersebut.

Meski demikian, hubungan dengan China mempunyai berat ekonomi dan strategis nan besar bagi Iran, terutama ketika negara tersebut tetap menghadapi permusuhan dengan Amerika Serikat.

China merupakan salah satu dari sedikit negara nan mempunyai kapabilitas finansial untuk menyediakan investasi nan dibutuhkan Teheran guna mempertahankan industri minyak sekaligus mengurangi tekanan terhadap perekonomiannya nan terpukul perang dan sanksi.

Beijing juga telah menunjukkan pengaruh diplomatiknya di kawasan. Pada 2023, China menjadi penengah dalam kesepakatan nan memulihkan hubungan Iran dan Arab Saudi setelah bertahun-tahun berada dalam ketegangan.

Namun, pengaruh China terhadap Iran bukan tanpa batas. Sejumlah pengkritik di dalam Iran menyoroti relatif kecilnya perdagangan dan investasi China di sektor nonminyak sejak kedua negara menandatangani pakta kerja sama 25 tahun pada 2021.

Kritik tersebut semakin mencuat jika dibandingkan dengan meningkatnya komitmen investasi China di negara-negara Arab Teluk.

China tetap menjadi aspek nan tidak bisa diabaikan Teheran. Namun, dua dari tiga sumber Iran mengatakan kepentingan Beijing hanyalah salah satu dari banyak pertimbangan nan diperhitungkan Iran.

Menurut mereka, keputusan Teheran dibentuk oleh beragam prioritas strategis, ekonomi, dan politik nan saling bersaing.

"Teheran dan Beijing saling membutuhkan. China adalah aspek nan tidak bisa diabaikan Teheran, sementara Beijing mau Hormuz dibuka kembali dan pelayaran di Laut Merah diamankan," kata diplomat Barat tersebut.

Para analis menilai ujian utama hubungan kedua negara sekarang adalah apakah China siap memberikan akibat atas tuntutannya kepada Iran.

(luc/luc) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News