Subsidi BBM Pakistan mulai berlaku, namun penduduk Karachi kesulitan mendaftar. Kebijakan ini diterapkan setelah nilai bensin melonjak hingga 380 rupee per liter.
Warga mengantre di sebuah SPBU untuk mengisi bahan bakar sepeda motor setelah pemerintah Pakistan meluncurkan skema subsidi bagi sepeda motor, becak motor, dan kendaraan bermesin hingga 800cc nan memenuhi syarat, di Karachi, Pakistan, Kamis (17/9/2026). Program nan mulai bertindak pada Rabu tengah malam tersebut membikin sejumlah penduduk telah berhari-hari berupaya mendaftarkan kendaraannya. (REUTERS/Akhtar Soomro)
Namun, sebagian tetap mengalami hambatan saat memasukkan nomor kendaraan dan kartu identitas untuk memperoleh bantuan. “Bagaimana orang nan tidak bisa membaca dan menulis dapat memperkuat hidup jika kondisinya dibuat sesulit ini?” kata Musharraf dalam wawancara di luar sebuah stasiun pengisian bahan bakar. (REUTERS/Akhtar Soomro)
Kenaikan nilai daya terjadi setelah perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran selama berbulan-bulan mengganggu perdagangan minyak dan gas dunia melalui Selat Hormuz. Harga gas spot Asia kembali mendekati US$30 (sekitar Rp528.703) per juta British thermal unit (MMBtu) pekan ini, naik dari sekitar US$10 (sekitar Rp176.234) sebelum perang. Shell memperkirakan bumi telah kehilangan sekitar 36 juta ton pasokan LNG dari Timur Tengah sepanjang tahun ini. (REUTERS/Akhtar Soomro)
Pemerintah Pakistan kemudian menerapkan skema subsidi bahan bakar secara nasional untuk meredam akibat kenaikan harga. Pemilik sepeda motor, becak, dan mobil mini mendapat support sebesar 100 rupee alias sekitar US$0,36 (sekitar Rp6.344) per liter, dengan pemisah kuota bulanan. Kebijakan ini diberlakukan setelah nilai bensin mencapai sekitar 380 rupee alias US$1,37 (sekitar Rp24.144) per liter, sedangkan solar mencapai 409 rupee alias US$1,48 (sekitar Rp26.082) per liter. (REUTERS/Akhtar Soomro)
Kondisi tersebut semakin membebani masyarakat lantaran bayaran minimum hanya sekitar US$145 alias Rp2,5 juta per bulan. Namun, sistem subsidi tersebut menuai kritik. Wakil Ketua Pakistan Petroleum Dealers Association, Tariq Hassan, mengatakan pelaku upaya tidak dilibatkan dalam penyusunan skema tersebut. Sementara itu, Lahore Chamber of Commerce & Industry meminta pemerintah memangkas pungutan bahan bakar lantaran tingginya biaya daya dinilai membebani eksportir. (REUTERS/Akhtar Soomro)
Tekanan daya juga terjadi pada sektor listrik Pakistan. Data Independent System Market Operator menunjukkan sektor kelistrikan memerlukan hingga 400 juta kaki kubik gas per hari selama musim dingin, sementara baru dua kargo LNG nan dikonfirmasi untuk September. Pemerintah tetap berupaya mencegah terulangnya penutupan aktivitas upaya pada awal tahun akibat keterbatasan pasokan energi. (REUTERS/Akhtar Soomro)
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·