Jakarta, CNBC Indonesia - Uni Emirat Arab (UEA) mempercepat pembangunan jalur pipa minyak baru nan dirancang untuk menghindari Selat Hormuz. Ini terjadi di tengah memanasnya perang Iran dan krisis daya global.
Perusahaan daya nasional Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) mengatakan proyek tersebut sekarang nyaris selesai 50%. CEO ADNOC, Sultan Ahmed Al Jaber, mengatakan bumi saat ini terlalu berjuntai pada jalur daya sempit nan rentan terhadap bentrok geopolitik.
"Saat ini terlalu banyak daya bumi tetap bergerak melalui terlalu sedikit titik sempit," kata Al Jaber dalam wawancara di Atlantic Council, dimuat CNBC International, Kamis (21/5/2026).
Pipa baru itu bakal menggandakan kapabilitas ekspor ADNOC melalui Fujairah, pelabuhan UEA di Teluk Oman nan berada di luar Selat Hormuz. Jalur tersebut dipercepat pembangunannya setelah Iran memblokade Hormuz sejak awal Maret 2026.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan minyak terpenting di dunia. Penutupan jalur itu membikin ekspor minyak dan gas UEA serta negara-negara Teluk Arab lainnya terganggu parah.
UEA sebelumnya telah mengalihkan sebagian ekspor minyak melalui jalur pipa lama menuju Fujairah dengan kapabilitas maksimal 1,8 juta barel per hari. Namun kapabilitas tersebut dinilai belum cukup untuk mengatasi gangguan besar akibat blokade Iran.
Menurut Al Jaber, penutupan Hormuz telah memicu gangguan pasokan daya paling parah dalam sejarah modern. Ia menyebut lebih dari 1 miliar barel minyak lenyap akibat penutupan jalur tersebut.
"Hampir 100 juta barel tambahan lenyap setiap minggu selama Hormuz tetap ditutup," ujar Al Jaber memperingatkan dampaknya tidak hanya terhadap ekonomi, tetapi juga keamanan daya global.
ADNOC memperkirakan pipa baru itu mulai beraksi pada 2027. Bahkan jika perang berhujung sekarang, Al Jaber mengatakan dibutuhkan setidaknya empat bulan untuk memulihkan aliran minyak hingga 80% dari kondisi normal.
Sementara itu, normalisasi penuh pasokan daya diperkirakan baru terjadi pada kuartal I alias kuartal II 2027. Menurut Al Jaber, ini bukan sekadar masalah ekonomi.
"Ini menciptakan preseden rawan ketika satu negara dapat menahan jalur perairan paling krusial di dunia," tambahnya.
Iran memblokade Selat Hormuz setelah Amerika Serikat (AS) dan Israel meluncurkan gelombang serangan udara besar terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Serangan tersebut menewaskan sejumlah petinggi Iran termasuk pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan pentingnya Selat Hormuz bagi pasar daya dunia kemungkinan bakal menurun setelah perang Iran. Menurutnya, negara-negara Teluk sekarang bakal semakin garang membangun jalur pipa alternatif.
"Ini adalah kartu nan hanya bisa dimainkan sekali," kata Wright mengenai blokade Iran.
"Akan ada jalur lain bagi daya untuk keluar dari Teluk Persia," tambahnya.
(sef/sef)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·