Vaksin HPV untuk mencegah kanker serviks.(Dok. Magnific)
PERTANYAAN mengenai apakah seseorang tetap bisa terkena kanker serviks meskipun sudah mendapatkan vaksin Human Papillomavirus (HPV) sering kali muncul di tengah masyarakat. Vaksinasi HPV memang dikenal sebagai langkah preventif paling efektif, namun memahami batas dan langkah kerjanya sangat krusial agar perlindungan nan didapatkan menjadi maksimal.
Secara medis, jawabannya adalah tetap mungkin, namun risikonya menurun secara drastis. Vaksin HPV tidak memberikan perlindungan 100% terhadap semua jenis virus HPV nan ada, tetapi dia memberikan perlindungan sangat kuat terhadap jenis-jenis nan paling rawan dan paling sering menyebabkan kanker.
Mengapa Risiko Masih Ada Setelah Vaksinasi?
Ada beberapa argumen medis kenapa seseorang nan sudah divaksinasi tetap perlu waspada terhadap akibat kanker serviks:
1. Keragaman Tipe Virus HPV
Terdapat lebih dari 100 jenis virus HPV, dan sekitar 14 di antaranya dikategorikan sebagai jenis akibat tinggi (high-risk) nan dapat menyebabkan kanker. Vaksin HPV nan paling umum digunakan saat ini (seperti vaksin kuadrivalen alias nonavalen) memberikan perlindungan terhadap 4 hingga 9 jenis HPV nan paling sering memicu kanker serviks (terutama jenis 16 dan 18). Meskipun tipe-tipe ini bertanggung jawab atas sekitar 70-90% kasus kanker serviks, tetap ada jenis akibat tinggi lainnya nan tidak dicakup oleh vaksin.
2. Waktu Pemberian Vaksin
Vaksin HPV bekerja paling efektif jika diberikan sebelum seseorang terpapar virus, idealnya sebelum aktif secara seksual. Jika seseorang sudah terinfeksi satu alias lebih jenis HPV sebelum divaksinasi, vaksin tersebut tidak dapat mengobati jangkitan nan sudah ada. Vaksin hanya mencegah jangkitan baru dari jenis HPV nan terkandung dalam dosis vaksin tersebut.
3. Status Imun dan Dosis
Efektivitas vaksin juga berjuntai pada kelengkapan dosis nan diterima. Jika seseorang tidak menyelesaikan rangkaian dosis sesuai agenda nan dianjurkan, tingkat antibodi nan terbentuk mungkin tidak cukup kuat untuk memberikan perlindungan jangka panjang.
Mitos vs Fakta: Vaksin HPV dan Kanker Serviks
| Vaksin HPV bisa menyembuhkan kanker serviks nan sudah ada. | Vaksin berkarakter preventif (pencegahan), bukan kuratif (pengobatan). |
| Setelah vaksin, tidak perlu lagi melakukan Pap Smear. | Skrining rutin tetap wajib lantaran vaksin tidak mencakup semua jenis HPV. |
| Vaksin HPV menyebabkan kemandulan. | Ini adalah hoaks. Tidak ada bukti ilmiah nan mendukung klaim ini; vaksin justru melindungi organ reproduksi. |
Langkah Perlindungan Lanjutan
Mengingat vaksin tidak memberikan perlindungan mutlak, para mahir kesehatan merekomendasikan strategi perlindungan dobel bagi wanita:
- Skrining Rutin: Melakukan Pap Smear alias tes DNA HPV secara berkala sesuai rekomendasi dokter. Skrining bermaksud mendeteksi perubahan sel serviks pada tahap pra-kanker sebelum berkembang menjadi kanker.
- Gaya Hidup Sehat: Menghindari rokok, lantaran unsur kimia dalam rokok dapat mempercepat kerusakan sel serviks nan terinfeksi HPV.
- Setia pada Pasangan: Mengurangi jumlah pasangan seksual dapat menurunkan akibat terpapar beragam jenis HPV nan berbeda.
Vaksinasi HPV tetap merupakan investasi kesehatan terbaik. Meskipun tidak 100%, penurunan akibat hingga 90% adalah nomor nan sangat signifikan dalam upaya eliminasi kanker serviks secara global. (H-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·