Apakah Ceramah Jusuf Kalla di UGM Menista Agama?

Sedang Trending 3 bulan yang lalu

Apakah Ceramah Jusuf Kalla di UGM Menista Agama?

Apakah Ceramah Jusuf Kalla di UGM Menista Agama? Foto: Okezone

Penulis: Ridwan al-Makassary,  Dosen Departemen Ilmu Politik Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) dan Direktur Center for the Study of Muslim Politics and World Society (COMPOSE).

JAKARTA - Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) dan Pemuda Katolik telah melaporkan mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla (JK) ke Polda Metro Jaya dengan argumen dugaan penistaan agama. Laporan ini, pada dasarnya, dipicu oleh potongan pidato pidato JK di Universitas Gadjah Mada (UGM), nan membahas “mati syahid” dalam bentrok di Poso dan Ambon.

Ujungnya, potongan pidato itu dinilai menyinggung emosi umat Kristen. Ceramah JK berjudul “Strategi Diplomasi Indonesia dalam Memitigasi Potensi Eskalasi Perang Regional Multipolar”, telah berjalan di UGM pada 5 Maret 2026. Potongan pidato JK tentang “mati syahid” tiba-tiba menjadi polemik nasional. Pertanyaan mendasar di sini apakah potongan pidato JK memang menista kepercayaan Kristen? Tak pelak, pro dan kontra terbit di tengah masyarakat.

Tulisan singkat ini mencoba meletakkan persoalan ini secara bening agar kita tidak mudah jumping to conclusion (loncat pada kesimpulan) hanya dengan memandang potongan pidato tersebut. Adalah perlu untuk memandang keseluruhan pidato tersebut sebelum memberikan penilaian. Ada beberapa perihal nan bakal dibahas di sini, ialah konten pidato JK tentang konteks bentrok bernuansa kepercayaan di Ambon dan Poso, dan juga peranan JK sebagai tokoh perdamaian dan kerukunan di tanah air. Bahkan, kiprahnya wangi di manca negara.

Terkait konten pidato nan berdurasi 40-an menit, di hadapan mahasiswa, JK sejatinya sedang membahas akar bentrok dan pentingnya memahami akar penyebab bentrok (perang) demi menciptakan perdamaian. Ia menegaskan bahwa ragam bentrok di Indonesia acap dipicu oleh ketidakadilan, nan kemudian berkembang menjadi bentrok bernuansa politik maupun agama. Bagi JK, “Di Indonesia, penyebab bentrok terbanyak adalah ketidakadilan”. Selanjutnya, JK mendeskripsikan sejumlah bentrok besar di Indonesia, mulai dari PRRI, Permesta, DI/TII, hingga bentrok Poso dan Ambon.

Dia  menjelaskan bahwa kepercayaan kerap dijadikan justifikasi pembenaran dalam bentrok nan sebenarnya berasal dari persoalan lain. Pernyataan nan paling menuai sorotan publik dalam rekaman cermah tersebut adalah saat JK menggambarkan gimana kedua pihak dalam konflik—baik Muslim maupun Kristen—sama-sama menyatakan tindakan mereka sebagai corak “syahid”. JK menyatakan “dalam perang jika saya meninggal pun saya syahid”, nan penulis tafsirkan menirukan langkah pandang golongan nan bertikai saat itu.

Ini konteks nan tampaknya tidak dipahami oleh para pihak nan menganggap JK menista agama, oleh lantaran menurut mereka tidak ada dalam aliran Kristen nan mengajarkan tentang “syahid”. Pernyataan tersebut sontak memicu reaksi keras dari sejumlah organisasi nan melaporkan JK ke Polda Metro Jaya, seperti disebut di atas.

Laporan itu telah tercatat dengan nomor resmi dan merujuk pada dugaan pelanggaran pasal penistaan kepercayaan dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023.

Dengan mencermati keseluruhan konten ceramah, penulis berpandangan bahwa JK, sejatinya, tidak sedang membicarakan doktrin agama, namun, menjelaskan realitas sejarah bentrok Poso dan Ambon nan memang sarat dengan penggunaan simbol-simbol agama.

Selengkapnya
Sumber Okezone.com
Okezone.com