Jakarta -
Istilah Petrodolar kembali mencuat lantaran dinilai susah tidak relevan dengan kondisi geopolitik sekarang ini, nan ikut didorong oleh peningkatan nilai minyak dunia imbas perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran.
Melansir Financial Times, Selasa (21/4/2026), istilah Petrodolar pada dasarnya merujuk pada praktik pertukaran minyak dunia dengan dolar AS, bukan mata duit lainnya. Berarti setiap proses jual-beli minyak di pasar dunia menggunakan mata duit dolar AS saat transaksi.
Pengguna dolar AS dalam transaksi minya dunia ini dimulai dari kesepakatan nan dinegosiasikan oleh mantan Menteri Luar Negeri AS Henry Kissinger pada 1971 silam. Kala itu Negeri Paman Sam tetap banyak membeli minyak dari negara Timur Tengah, terutama Arab Saudi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hingga pada 1973, Arab Saudi kemudian menerima kesepakatan tersebut dengan menjual minyak ke seluruh bumi secara eksklusif hanya dalam mata duit dolar AS dan menginvestasikannya kembali hasilnya ke aset dolar. Sebagai imbalannya, Arab Saudi bakal menerima peralatan militer dan agunan keamanan dari Washington.
Kesepakatan AS dan Arab Saudi itupun kemudian menjadi keberhasilan diplomatik nan sangat besar. Sebab kesepakatan itu pada akhirnya sukses negara-negara Teluk lainnya ke dalam lingkaran sekutu Washington.
Lebih krusial lagi, kesepakatan itu menghasilkan persediaan permintaan nan sangat besar untuk perangkat militer AS dan aset dolar, memastikan bahwa biaya pinjaman AS tetap lebih rendah daripada nan semestinya dan melestarikan "hak spesial nan berlebihan" Amerika hingga era mata duit fiat.
"Tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa sistem petrodolar merupakan inti dari model ekonomi AS: mendanai penemuan dan pertumbuhan dengan biaya modal nan sengaja diturunkan," kata Kallum Pickering, kepala ahli ekonomi di Peel Hunt.
Perang Iran Membuat Sistem Petrodollar Goyah
Sistem petrodolar didirikan atas premis bahwa AS bakal membeli minyak Teluk sebagai hadiah atas keamanan. Di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump, AS juga mengimpor lebih sedikit minyak dan tampaknya tidak tertarik untuk memberikan keamanan kepada sekutu.
Bagi negara-negara Teluk, kondisi ini membikin payung pertahanan AS terlihat belum cukup untuk melindungi mereka dari serangan Iran. Seperti contoh saat Iran menargetkan serangannya terhadap pusat gas alam cair (LNG) Ras Laffan di Qatar dan sukses melumpuhkan nyaris seperlima kapabilitas produksi gas negara itu, dengan kerusakan nan diperkirakan bakal berjalan hingga lima tahun ke depan.
Namun di luar kegagalan AS dalam melindungi negara-negara sekutu di Timur Tengah, perang melawan Iran ini telah mengungkap masalah nan jauh lebih serius dan mendasar mengenai pengaturan petrodollar di era Presiden Donald Trump.
Sebab dalam perang ini Pemerintahan AS berbareng dengan Israel merupakan pihak agresor namalain penyerang pertama. Mereka bertindak tanpa memperingatkan sekutu regionalnya dan mengabaikan kepentingan negara-negara tersebut.
Jauh setelah perang, kemungkinan besar negara-negara Timur Tengah ini bakal terus menghitung kerugian mereka. Mungkin perihal ini jauh lebih jelek daripada kerugian nan kudu dirasakan imbas perang tersebut, lantaran berpotensi mengubah model ekonomi area itu secara keseluruhan.
Belajar dari perang ini, negara-negara Teluk mempunyai kemungkinan besar bakal berupaya untuk melakukan diversifikasi ekspor daya ke banyak negara di bumi sembari menjaga keamanan nasional mereka. Membuat AS semakin tidak bisa dipercaya.
"Dengan aset ekonomi inti Teluk nan terus-menerus diserang, susah untuk membayangkan bahwa kredibilitas komitmen keamanan AS nan telah lama ada tidak terkikis," kata Navin Girishankar, presiden Departemen Keamanan Ekonomi dan Teknologi di Pusat Studi Strategis dan Internasional kepada Financial Times.
Kondisi inilah nan kemudian menimbulkan peralihan dari sistem petrodollar ke sistem perdagangan minyak terbuka. Mulai terlihat dari mulai munculnya istilah baru ialah Petroyuan.
Sebab di tengah ketidakpastian AS dalam menjaga keamanan di Timur Tengah, sejak 2017 lampau China menggantikan AS sebagai importir minyak mentah terkemuka di dunia. Menunjukkan kerentanan petrodolar apalagi sebelum perang Iran pecah.
(igo/fdl)
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·