Sejumlah penduduk beraktivitas di area permukiman padat Cilincing, Jakarta Utara, Rabu (5/8/2026). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah masyarakat miskin pada Maret 2026 mencapai 22,93 juta jiwa, turun dari 23,36 juta jiwa pada September 2025. Angka tersebut menjadi sinyal perbaikan kondisi kemiskinan secara nasional.

Namun di kembali statistik nan membaik, kehidupan di permukiman padat tetap memperlihatkan realita nan tak selalu sejalan dengan angka. Bagi banyak keluarga, persoalan utama bukan sekadar keluar dari kategori miskin, melainkan gimana memperkuat hidup hingga akhir bulan.

Di Cilincing, degub kehidupan dimulai sejak pagi. Buruh harian, nelayan, pemulung, pedagang kaki lima, hingga pekerja serabutan terus berburu penghasilan nan belum tentu datang setiap hari.

Kenaikan nilai kebutuhan pokok, biaya pendidikan anak, ongkos transportasi, dan kebutuhan tempat tinggal membikin sebagian besar pendapatan lenyap apalagi sebelum bulan berganti. Sedikit guncangan ekonomi saja dapat kembali mendorong family rentan jatuh ke lembah kemiskinan.

Banyak penduduk memang tidak lagi masuk dalam kategori miskin menurut ukuran statistik. Namun mereka tetap hidup dalam kondisi serba pas-pasan dengan ruang mobilitas ekonomi nan sangat terbatas.

Lorong-lorong sempit, rumah berdempetan, serta minimnya ruang terbuka menjadi potret gimana keterbatasan ekonomi tetap membentuk wajah permukiman padat di ibu kota.

Bagi sebagian warga, pekerjaan bukan soal memilih profesi, melainkan menerima apa pun nan tersedia demi memastikan dapur tetap mengepul dan anak-anak tetap bisa bersekolah.

Penurunan nomor kemiskinan menjadi capaian nan patut diapresiasi. Namun keberhasilan tersebut belum sepenuhnya mencerminkan meningkatnya kualitas hidup seluruh masyarakat, terutama mereka nan tetap berada di garis paling rentan. Pengentasan kemiskinan tidak berakhir ketika nomor statistik menurun. Tantangan sesungguhnya adalah menciptakan pekerjaan nan layak, pendapatan nan stabil, serta akses terhadap pendidikan, kesehatan, dan kediaman nan lebih baik.

Selama tetap ada family nan kudu mengorbankan kebutuhan dasar demi memperkuat hidup, kemiskinan belum betul-betul selesai. Ia hanya berubah corak dan menjadi semakin susah terlihat dalam deretan angka.

Di tengah optimisme penurunan kemiskinan nasional, kehidupan penduduk di permukiman padat mengingatkan bahwa kesejahteraan tidak cukup diukur dari statistik. Ia kudu betul-betul dirasakan dalam kehidupan sehari-hari oleh mereka nan tetap berjuang memenuhi kebutuhan paling mendasar.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·