Medan, CNN Indonesia --
Kepolisian menangkap enam personil organisasi kemasyarakatan (ormas) nan menganiaya laki-laki berjulukan Jaka Malau (24) hingga tewas di Taman Bunga Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara.
Ironisnya, polisi mengatakan Jaka Malau ternyata korban salah sasaran personil ormas tersebut.
Kasat Reskrim Polres Pematangsiantar AKP Sandi Riz Akbar mengatakan peristiwa pengeroyokan salah sasaran berujung maut itu terjadi pada 28 Mei lalu. Korban sempat mendapat perawatan medis di rumah sakit, namun meninggal sehari kemudian.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari pemeriksaan sementara, polisi mendapati motif pengeroyokan itu adalah perihal pembayaran pembuatan tato.
"Motif dari kasus ini ialah adanya perselisihan nilai tato antara HH dan MH selaku kreator tato. HH merasa keberatan setelah mengetahui biaya pembuatan tato mencapai Rp600 ribu," ujar AKP Sandi kepada CNNIndonesia.com, Rabu (24/6).
Dia menjelaskan HH lantas menceritakan masalah itu kepada temannya RWMS. Dalam kondisi emosi, RWMS membujuk lima orang temannya mendatangi MH di studio pembuatan tato di area Taman Bunga.
"Setibanya di lokasi, mereka lampau membawa MH ke area dekat taman hewan dan meminta agar duit nan telah dibayarkan HH dikembalikan," ujarnya.
Namun, MH mengaku belum dapat mengembalikan duit tersebut dan meminta waktu. Perdebatan pun terjadi sebelum MH akhirnya dibawa kembali ke stan tempatnya bekerja sebagai kreator tato.
"Sehingga terjadilah cekcok. Lalu MH meminta waktu untuk mengembalikan duit tersebut. Setelah itu MH dikembalikan lagi ke Taman Bunga tepatnya di stan pembuatan tato," urainya.
Saat tiba kembali di lokasi, RWMS nan turun lebih dulu dari mobil memandang Jaka Malau sedang duduk di dekat stan tato tersebut. Dalam keadaan emosi, RWMS menuduh korban sebagai kawan MH.
"RWMS nan pertama kali keluar dari mobil memandang korban Jaka Malau ini duduk di dekat stan pembuatan tato. Tersangka RWMS dalam keadaan emosi menuduh korban ikut-ikutan lantaran merupakan kawan MH," sebutnya.
Cekcok antara keduanya tidak dapat dihindari hingga berujung pada tindakan saling pukul.
Melihat RWMS terlibat dalam keributan itu, lima rekannya datang lampau bersama-sama melakukan pengeroyokan terhadap korban.
"Lalu terjadi cekcok dan pukul pukulan. Tidak terima RWMS dipukul, lampau kawan teman RWMS datang dan langsung melakukan pengeroyokan terhadap Jaka Malau," sebut Sandi.
Belakangan diketahui bahwa Jaka tidak mempunyai kaitan dengan perselisihan antara HH dan MH. Korban diduga menjadi sasaran salah akibat kesalahpahaman para tersangka.
"Setelah dipukuli, korban dibiarkan kritis di pinggir jalan. Kemudian, korban dibawa ke rumah sakit dan nyawanya tidak tertolong. Akhirnya jenazah korban diautopsi dengan persetujuan keluarganya," ucap Sandi.
Polisi telah menetapkan enam orang sebagai tersangka dalam kasus penganiayaan secara bersama-sama nan mengakibatkan korban meninggal dunia. Seluruh tersangka sekarang telah ditahan untuk menjalani proses hukum.
"Seluruh tersangka berjumlah 6 orang sudah ditahan. Keenam tersangka ialah FS (30), RP (24), RWMS (28), PGS (44) RS (52), dan SS (43). Para tersangka bakal diproses norma untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya," tegas Sandi.
[Gambas:Youtube]
(fnr/kid)
Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·