Anggota Komisi V Usul Masinis Pantau Rel Per 2 Km via Monitor, Cegah Laka Kereta

Sedang Trending 54 menit yang lalu
Anggota Komisi V DPR dari Fraksi PKB Sudjatmiko (kanan) dalam aktivitas Dialektika DPR di Gedung Parlemen, Senayan, Kamis (30/4/2026). Foto: Muhammad Fhandra/kumparan

Anggota Komisi V DPR Sudjatmiko memberikan catatan mengenai tabrakan KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL di Stasiun Bekasi Timur nan terjadi pada Senin (27/4) malam. Dalam peristiwa tersebut, 16 orang dilaporkan meninggal dunia.

Sudjatmiko mengatakan penyebab pasti tabrakan belum diketahui. Namun, terdapat sejumlah kemungkinan, mulai dari gangguan sistem hingga persoalan jalur kereta.

"Tapi nan jelas sinyal merahnya itu mati, jadi dari Stasiun Bekasi hijau seperti itu. Ini sebenarnya jalur Cikarang-Bekasi itu harusnya double-double track. Kenapa kudu double-double track? Karena dia melayani Commuter Line dan kereta jarak jauh. Selalu harusnya double-double track," kata Sudjatmiko dalam agenda Diskusi Forum Dialektika di Ruang Abdul Muis, Gedung Nusantara I, Senayan, Jakarta, Kamis (30/4).

Soroti Infrastruktur dan Perlintasan

Ia menjelaskan, jalur dari Manggarai ke Bekasi sudah menggunakan sistem jalur dobel terpisah antara Commuter Line dan kereta jarak jauh. Namun, dari Bekasi ke Cikarang tetap menggunakan jalur dobel nan belum terpisah.

"Itu jadi untuk tadi peraturan sudah saya sedikit jelaskan, nan jelas perlintasan sebidang ini memang wajib dijaga sesuai dengan peraturan dan tingkatan dari jalannya. Kalau jalan nasional Kementerian, jalan kabupaten dari bupati, jalan provinsi gubernur. Tapi Pak Presiden sudah menginstruksikan untuk mengganti semuanya jadi dari Presiden kelak senilai Rp 4 triliun, mudah-mudahan ini bisa selesai dalam tahun ini," kata dia.

video from internal kumparan

Usulan Solusi Jangka Pendek hingga Panjang

Politikus PKB ini mengusulkan sejumlah langkah penanganan jangka pendek, menengah, dan panjang.

Untuk jangka pendek, dia mendorong penjagaan penuh di perlintasan rawan oleh petugas bersertifikat.

"Emang ini kudu punya sertifikat. Terus kedua meningkatkan keselamatan perlintasan sebidang seperti penambahan rambu dan sinyal peringatan, penertiban pelanggaran wajib nanti," kata dia.

"Dan jangka pendeknya kemarin saya juga sudah mengusulkan untuk kabin masinis itu bisa mengetahui secara visual dengan layar monitor 1.000 sampai 2.000 meter," tambah dia.

Ia menjelaskan, saat ini sistem kontrol hanya dapat dipantau dari stasiun, sementara masinis belum mempunyai akses visual langsung.

"Nanti harapannya bisa di sebuah kabin masinis itu bisa mengetahui 1.000 sampai 2.000 meter lantaran jarak dengan kecepatan 60 sampai 100, jika 60 berfaedah kan jarak pengeremannya sekitar 600 meter, jika kecepatannya 100 kan berfaedah jarak pengeremannya 1 kilo itu dia 1.000 meter jika kecepatan 100," kata dia.

Menurutnya, akses kabin masinis mengetahui secara visual dengan layar monitor bisa terkoneksi dengan CCTV nan tersedia.

Nah, harapannya bisa dengan teknologi sebenarnya tidak terlalu mahal, hanya terkoneksi CCTV di setiap perlintasan sebidang dan stasiun, jadi kelak masinis itu bisa mengakses 1.000 sampai 2.000 meter pandangan ke depannya dengan monitor itu.

Petugas mengevakuasi gerbong KRL Commuterline usai berbenturan dengan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/4/2026). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Evaluasi Sistem Keselamatan

Untuk jangka menengah, diperlukan audit menyeluruh terhadap sistem keselamatan nasional serta perbaikan pada perlintasan sebidang, baik di jalur kereta maupun jalan raya.

"Terkadang perlintasannya jalannya aspalnya betonnya ini tidak bagus ya jadi bergelombang jadi pengendara kendaraan bermotor roda dua roda empat ini dan nan lainnya itu terganggu lantaran rusak ya jalannya. Perlintasan kan kadang sering rusak lantaran beban kejutnya. Juga integrasi sistem pengaman," ucap Sudjatmiko.

Sementara untuk jangka panjang, dia menilai pembangunan flyover dan underpass perlu dipercepat, khususnya di wilayah dengan lampau lintas kereta nan padat.

"Kalau itu kudu dibuat flyover memang nggak ada langkah lain jika EQL-nya tinggi keretanya di bawah apalagi Jabodetabek tiap 5 menit ada kereta, nah itu harusnya sudah menggunakan flyover dan underpass. Nah penutupan perlintasan sebidang nan ilegal, nah ini nan kudu ditekankan nan terlarangan saja. Modernisasi sistem perkeretaapian tadi salah satunya nan saya sampaikan kudu ada pandangan visual seperti itu," kata dia.

Bukan Sekadar Faktor Individu

Ia menilai kecelakaan ini tidak semata-mata disebabkan oleh aspek individu, melainkan adanya persoalan sistem nan perlu dibenahi.

"Nah kejadian ini memang kudu jadi momentum pertimbangan menyeluruh buat sistem keselamatan transportasi nasional khususnya pada perlintasan sebidang. Keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama," ucap dia.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan