Selama ini, kita terbiasa memandang panti didikan sebagai tempat nan perlu dikasihani. Kita datang membawa bungkusan nasi alias sampulsurat cokelat, lampau pulang dengan emosi sudah melakukan baik.
Namun pernahkah kita terpikir, apa nan dirasakan anak-anak di sana setiap hari? Mereka tumbuh dalam bayang-bayang ketergantungan. Hidup mereka ditentukan oleh apakah ada orang baik nan datang hari ini alias tidak. Kita mendidik mereka untuk selalu berada di posisi "menunggu," bukan "membangun".
Bayangkan jika negara datang ke panti itu bukan untuk memberikan santunan, melainkan untuk memberikan kepercayaan. Tidak sekadar memberi ikan, tetapi juga menyerahkan kunci penyimpanan makanannya.
Meluruskan Aliran Uang Rakyat
Kita bicara soal program Makan Bergizi Gratis (MBG) nan anggarannya triliunan. Ini duit dari pajak kita semua, termasuk dari orang-orang nan hidupnya pas-pasan. Namun sering kali, ketika ada proyek besar seperti ini, nan pertama kali antre adalah perusahaan-perusahaan besar milik orang nan sudah kaya raya. Mereka punya modal, alat, dan koneksi. Akhirnya, duit rakyat itu hanya berputar-putar di kalangan atas saja.
Sekarang coba kita kembali logikanya. Mengapa bukan panti didikan nan memegang kendali dapur itu?
Jika panti didikan nan mengelola, duit itu tidak bakal terbang ke mana-mana. Setiap rupiah untung nan tersisa dari dapur itu tidak bakal jadi mobil mewah bagi pengusaha katering, tetapi bakal langsung berubah jadi biaya sekolah, baju baru, alias perbaikan bilik anak-anak panti nan selama ini sempit dan pengap. Uang itu tetap tinggal di sana, menghidupi mereka nan betul-betul membutuhkan, tanpa kudu menunggu belas iba orang lagi.
Menghidupi Kampung di Sekitar Panti
Panti didikan itu tidak hidup di ruang hampa. Di sekelilingnya ada tetangga, ada warga. Jika dapur besar ini ditaruh di panti, siapa nan bakal memasak? Bukan robot, melainkan ibu-ibu penduduk sekitar. Janda-janda tua nan butuh penghasilan, alias bapak-bapak nan sedang tidak punya pekerjaan, bisa direkrut untuk membantu masak dan mengantar makanan ke sekolah-sekolah.
Panti didikan tidak lagi menjadi "pulau terasing" di lingkungannya. Mereka menjadi pusat ekonomi. Mereka membeli sayur dari kebun warga, membeli telur dari peternak mini di desa sebelah, dan mempekerjakan tetangga sendiri. Inilah nan namanya ekonomi nan jujur. Ekonomi nan tumbuh dari bawah, oleh panti asuhan, untuk rakyat sekitar.
Sekolah Kehidupan nan Sesungguhnya
Anak-anak panti memang kudu sekolah. Namun, sekolah nan paling membekas adalah apa nan mereka lihat di rumah mereka sendiri. Sepulang sekolah, mereka memandang panti mereka sibuk mengelola dapur. Mereka memandang gimana mengurus stok beras, gimana mengatur orang bekerja, dan gimana bertanggung jawab menyediakan ribuan piring makanan sehat setiap hari.
Tanpa kudu diajari teori kewirausahaan di kelas, mereka sudah belajar langsung. Mereka tumbuh dengan kepala tegak lantaran tahu bahwa panti mereka adalah pahlawan bagi teman-teman sekolahnya. Mereka tidak lagi merasa sebagai "penerima bantuan," tetapi sebagai "penyedia manfaat." Perubahan mental ini jauh lebih mahal harganya daripada piagam mana pun.
Menepis Alasan Birokrasi
Pasti ada nan beralasan, "Panti didikan belum sanggup, mereka tidak profesional." Ini adalah argumen nan sangat tidak adil. Bagaimana mereka bisa ahli jika tidak pernah dipercaya?
Tugas pemerintah semestinya adalah membimbing panti-panti ini. Kalau mereka butuh kompor besar, belikan. Kalau mereka butuh training gizi, beri tahu.
Lebih mulia bagi pemerintah untuk membikin panti didikan jadi berdikari dan profesional, daripada membiarkan pengusaha nan sudah mapan makin gendut kantongnya dari anggaran sosial.
Gizi nan Sampai ke Hati
Memberikan pengelolaan dapur ke panti didikan adalah langkah kita memastikan bahwa duit negara betul-betul sampai ke alamat nan tepat. Kita tidak hanya mau anak sekolah kenyang, tetapi juga mau anak yatim berdaya. Kita tidak mau hanya memandang piring nan penuh nutrisi, tetapi juga mau memandang sebuah lembaga sosial nan bisa berdiri tegak di atas kakinya sendiri.
Andai dapur itu ada di panti asuhan, setiap butir nasi nan disajikan bukan sekadar urusan perut, melainkan juga soal martabat dan keadilan.
Karena makanan nan dimasak dengan rasa syukur dan tanggung jawab sosial rasanya pasti jauh lebih lezat dan lebih membawa berkah bagi masa depan bangsa ini.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·