Polisi tetap menyelidiki penyebab tewasnya empat orang sekeluarga penduduk Ambarawa, Kabupaten Semarang, saat glamping di lokasi wisata Posong, Kecamatan Kledung, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.
Salah satu anak korban diketahui berjulukan Bagas Amar Hakiki. Ia adalah anak pertama dari family tersebut dan berstatus mahasiswa Sastra Prancis Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM angkatan 2022.
Selain itu, Bagas juga merupakan ahli foto lepas di Kawedanan Tandha Yekti Keraton Yogyakarta.
Hal itu dibenarkan oleh Pengajeng Hudyanawara Kawedanan Tandha Yekti Keraton Yogyakarta, Nyi RW Kartiutami Guritno.
"Betul, Mas Bagas salah satu ahli foto kami di Kawedanan Tandha Yekti. Fotografer lepas, tapi masuk dalam tim inti dokumentasi. Tim pengarsipan kami sebagian abdi dalem, sebagian freelance," kata Kartiutami saat dihubungi, Kamis (28/5).
Sosok Bagas
Kartiutami menceritakan, Bagas awalnya merupakan salah satu peserta program magang di Kawedanan Tandha Yekti pada 2024.
"Lalu kemudian dari magang tersebut kami memandang skill fotografinya nan mumpuni, sehingga setelah masa magangnya satu tahun selesai, Bagas berbareng dua orang kawan lainnya menjadi bagian dari tim pengarsipan KTY sebagai ahli foto lepas," ujarnya.
Kartiutami menyampaikan, di Keraton, Bagas dikenang sebagai pribadi nan senang membantu, bisa diandalkan, dan menyenangkan.
"Kami sangat kehilangan sekali, bukan hanya kehilangan salah satu ahli foto terbaik kami, tapi juga kolega, rekan, adik, sahabat baik," katanya.
Empat orang nan meninggal bumi terdiri dari ayah berinisial MAN (52), ibu M (43), dan dua anaknya, ialah Bagas Amar Hakiki (21) dan AE (16). Peristiwa ini diketahui pada Rabu, 27 Mei 2026 sekitar pukul 16.00 WIB. Satu family itu awalnya menginap di tenda glamping sejak Selasa, 26 Mei 2026.
Diduga Keracunan Gas
Polisi mengungkapkan temuan baru bahwa mereka meninggal diduga lantaran keracunan gas.
Sebelumnya, polisi mengungkap dugaan awal tewasnya sekeluarga itu lantaran keracunan makanan.
Dugaan keracunan gas itu menguat setelah interogator menemukan gas portable nan digunakan korban untuk memasak.
"Kemungkinan ada dua, dari gas portable itu sama gas setelah bakar-bakar. Jadi setelah barbeque-an lantaran langsung tidur, setelah dia bakar-bakar langsung ditutup pintunya," kata Kasat Reskrim Polres Temanggung, Iptu I Komang Mahendra Deputra, kepada wartawan, Kamis (28/5).
Ia menjelaskan, kondisi tenda glamping nan relatif tertutup diduga membikin sirkulasi udara tidak melangkah maksimal sehingga gas terperangkap di dalam ruangan.
"Posisi bbq-an memang agak ke luar tapi kemungkinan masuk (ke tenda). Jadi ada dua kemungkinan," jelas dia.
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·