Kebutuhan Pasien makin Kompleks, Rumah Sakit Bergerak ke Layanan Terintegrasi

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Kebutuhan Pasien makin Kompleks, Rumah Sakit Bergerak ke Layanan Terintegrasi Ilustrasi(Dok RS Bunda)

PERUBAHAN kebutuhan jasa kesehatan mendorong rumah sakit untuk tidak lagi hanya mengandalkan akomodasi medis nan lengkap, tetapi juga menghadirkan sistem pelayanan nan terhubung dan terintegrasi.

Di tengah meningkatnya kebutuhan pasien terhadap jasa multidisiplin, integrasi antar-fasilitas kesehatan dinilai menjadi salah satu aspek krusial dalam meningkatkan kualitas pelayanan dan keselamatan pasien. Tren tersebut mulai terlihat dari langkah sejumlah penyedia jasa kesehatan nan memperkuat konektivitas antar-unit layanan.

Salah satunya dilakukan PT Bundamedik Tbk (BMHS) nan memulai pembangunan jembatan penghubung (skybridge) untuk mengintegrasikan Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Bunda Jakarta dengan Rumah Sakit Umum (RSU) Bunda Jakarta dalam satu ekosistem jasa kesehatan keluarga. 

Pembangunan skybridge tersebut ditujukan untuk memperkuat integrasi jasa klinis, meningkatkan keselamatan pasien, serta memperlancar mobilitas pasien, tenaga medis, dan tenaga penunjang. Dengan terhubungnya dua akomodasi nan selama ini berdiri terpisah, BMHS berambisi proses pelayanan dapat melangkah lebih efisien dan terkoordinasi.

Komisaris Utama PT Bundamedik Tbk, dr. Ivan Rizal Sini, mengatakan pengembangan akomodasi tersebut merupakan bagian dari upaya perusahaan memastikan seluruh jasa nan telah dibangun selama puluhan tahun dapat bekerja sebagai satu kesatuan nan berorientasi pada kebutuhan pasien.

“Skybridge ini adalah gambaran dari gimana kami memandang pertumbuhan, bukan hanya soal menambah akomodasi baru, tetapi memastikan seluruh jasa nan sudah kami bangun selama lebih dari 50 tahun dapat bekerja sebagai satu kesatuan nan utuh dan pada akhirnya berpusat pada kebutuhan pasien,” ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (10/6).

Peletakan batu pertama pembangunan skybridge turut dihadiri Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo. Menurut Pramono, peningkatan akomodasi pelayanan di Rumah Sakit Bunda diharapkan tidak hanya berakibat pada operasional medis, tetapi juga memberikan kenyamanan nan lebih baik bagi pasien dan keluarga.

“Mudah-mudahan dengan adanya jembatan penghubung ini, Rumah Sakit Bunda dapat memberikan kontribusi nan lebih besar bagi kesehatan dan kenyamanan masyarakat sehingga kualitas kehidupan di Jakarta menjadi jauh lebih baik,” katanya.

Langkah integrasi tersebut juga menjadi bagian dari strategi BMHS dalam memperkuat ekosistem jasa kesehatan nan dimiliki.

Presiden Direktur PT Bundamedik Tbk, Agus Heru Darjono, mengatakan pengembangan prasarana dilakukan untuk mendukung pertumbuhan jasa unggulan nan dimiliki perusahaan, mulai dari jasa neonatal hingga bedah robotik. Menurut dia, standar klinis nan tinggi perlu melangkah beriringan dengan integrasi jasa dan peningkatan standar keselamatan pasien.

Kebutuhan terhadap sistem pelayanan nan terhubung semakin relevan seiring meningkatnya kompleksitas kasus kesehatan nan ditangani rumah sakit modern. Pasien kerap memerlukan penanganan dari beragam disiplin pengetahuan sekaligus, sehingga koordinasi antar-unit jasa menjadi aspek krusial dalam menentukan kualitas perawatan.

Di lingkungan RS Bunda Jakarta, integrasi tersebut bakal menghubungkan dua jasa unggulan nan selama ini berada di akomodasi berbeda. Di bagian neonatal, RSIA Bunda Jakarta berkedudukan sebagai pusat rujukan nasional dengan 14 tempat tidur Neonatal Intensive Care Unit (NICU) dan menangani ratusan bayi berisiko tinggi setiap tahun dengan support master subspesialis neonatologi.

Selain itu, BMHS juga dikenal sebagai pelopor program Family Integrated Care (FICare) di Indonesia, pendekatan nan melibatkan orang tua secara aktif dalam perawatan bayi prematur guna meningkatkan hasil klinis pasien.

Sementara di sisi lain, RS Bunda Group merupakan salah satu pionir jasa bedah robotik di Indonesia. Sejak diperkenalkan pada 2012, lebih dari 900 tindakan bedah robotik telah dilakukan di jaringan rumah sakit tersebut. Dengan terhubungnya kedua akomodasi melalui skybridge, akses terhadap jasa neonatal dan bedah robotik diharapkan menjadi lebih mudah dan terkoordinasi. Integrasi tersebut juga memungkinkan mobilitas pasien dan tenaga medis berjalan lebih efisien dibandingkan sebelumnya ketika kedua gedung tetap terpisah secara fisik.

Di tengah persaingan industri kesehatan nan semakin mengedepankan kualitas pengalaman pasien, langkah integrasi jasa diperkirakan bakal menjadi salah satu arah pengembangan rumah sakit ke depan. Bukan lagi sekadar menambah kapabilitas alias akomodasi baru, tetapi membangun ekosistem jasa nan bisa memberikan perawatan secara menyeluruh, aman, dan berkesinambungan bagi pasien dan keluarga. (E-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia