"Sudah dibilang jangan begitu!"
Kalimat seperti ini mungkin sudah tidak asing lagi bagi sebagian anak. Ketika anak melakukan kesalahan, orang tua terkadang langsung membentak sebagai corak luapan emosi. Apalagi ketika orang tua sedang lelah, banyak pikiran, alias menghadapi masalah lainnya.
Namun, apakah membentak betul-betul dapat membikin anak menjadi lebih baik?
Anak pada dasarnya tetap berada dalam proses belajar. Mereka belum sepenuhnya bisa memahami akibat dari setiap tindakan nan dilakukan. Kesalahan nan mereka lakukan tidak selalu berfaedah bahwa mereka sengaja melakukan buruk. Bisa jadi, mereka sedang mencoba sesuatu nan baru, belum memahami aturan, alias sekadar belum bisa mengendalikan rasa mau tahunya.
Di sinilah peran orang tua sangat penting. Ketika anak melakukan kesalahan, orang tua memang perlu memberikan arahan. Namun, membentak bukan satu-satunya langkah untuk membikin anak memahami kesalahannya.
Bentakan Tidak Selalu Membuat Anak Mengerti
Sebagian orang tua mungkin berpikir bahwa membentak bakal membikin anak jera. Anak nan takut dimarahi dianggap bakal lebih berhati-hati dan tidak mengulangi kesalahannya.
Padahal, anak nan sering dibentak bisa saja hanya belajar untuk takut kepada orang tua, bukan betul-betul memahami kesalahannya. Mereka mungkin menjadi lebih tertutup, takut berbicara, alias menyembunyikan kesalahan lantaran cemas bakal kembali dimarahi.
Bahkan, bentakan nan terus-menerus dapat membikin anak merasa bahwa dirinya selalu salah. Hal ini tentu dapat memengaruhi rasa percaya diri dan hubungan emosional antara anak dengan orang tua.
Orang Tua Juga Boleh Merasa Marah
Meskipun membentak bukan langkah nan baik, bukan berfaedah orang tua tidak boleh merasa marah. Orang tua juga manusia nan bisa merasa lelah, kecewa, dan kehilangan kesabaran.
Yang perlu diperhatikan adalah langkah melampiaskan emosi tersebut. Ketika mulai merasa mau membentak, orang tua dapat mengambil waktu sejenak untuk menenangkan diri. Setelah emosi lebih terkendali, orang tua dapat membujuk anak berbincang dengan lebih tenang.
Misalnya, ketika anak menumpahkan makanan alias minuman, daripada langsung berteriak, orang tua dapat mengatakan “Tidak apa-apa, tetapi lain kali lebih hati-hati ya. Sekarang kita bersihkan bersama.”
Kalimat sederhana tersebut tetap memberikan teguran, tetapi tidak membikin anak merasa direndahkan alias ditakuti.
Kesalahan Anak Bisa Menjadi Kesempatan untuk Belajar
Anak perlu memahami bahwa setiap tindakan mempunyai konsekuensi. Namun, proses belajar tersebut tidak kudu selalu dilakukan melalui bentakan.
Ketika anak melakukan kesalahan, orang tua dapat membantu anak memahami apa nan terjadi, kenapa perihal tersebut salah, dan gimana langkah memperbaikinya. Dengan begitu, anak tidak hanya takut untuk mengulangi kesalahan, tetapi juga memahami argumen di kembali suatu aturan.
Mendidik anak memang bukan perihal nan mudah. Orang tua tidak dituntut untuk selalu sempurna. Ada kalanya orang tua kehilangan kesabaran dan terlanjur membentak anak.
Jika perihal itu terjadi, meminta maaf kepada anak bukan berfaedah orang tua kehilangan wibawa. Sebaliknya, perihal tersebut dapat mengajarkan kepada anak bahwa setiap orang bisa melakukan kesalahan dan mempunyai keberanian untuk mengakuinya.
Maka, ketika anak melakukan kesalahan, mungkin pertanyaan nan lebih krusial bukanlah, “Bagaimana agar anak takut dan jera?” melainkan, “Bagaimana agar anak dapat memahami kesalahannya dan belajar menjadi lebih baik?”
Sebab, anak mungkin lupa terhadap kesalahan nan pernah mereka lakukan. Namun, mereka bisa mengingat gimana emosi mereka ketika menghadapi kesalahan tersebut berbareng orang tuanya.
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·