Anak Lebih Suka Main Sendiri di Dekat Temannya, Wajarkah? Ini Kata Psikolog

Sedang Trending 32 menit yang lalu
Anak Lebih Suka Main Sendiri di Dekat Temannya, Wajarkah? Ini Kata Psikolog. Foto: Shutter Stock

Moms, pernah memandang si mini bermain di dekat teman-temannya, tetapi seolah sibuk dengan dunianya sendiri? Misalnya, satu anak asyik menyusun balok, sementara anak lain di sebelahnya bermain mobil-mobilan.

Meski berada berdekatan, keduanya tidak betul-betul bermain bersama. Mereka mungkin saling memperhatikan alias apalagi meniru permainan satu sama lain, tetapi belum mempunyai tujuan permainan nan sama, bergantian, maupun bekerja sama. Kondisi ini dikenal sebagai parallel play alias bermain paralel.

Psikolog Anak, Fabiola Priscilla, M.Psi, menjelaskan bahwa parallel play merupakan salah satu tahap bermain ketika anak bermain berdekatan dengan anak lain, tetapi belum betul-betul terlibat dalam permainan bersama.

Fabiola Priscilla, M.Psi, Psikolog Anak dalam aktivitas IKEA PLAY 2025: Eksplorasi, Imajinasi, Inspirasi di Jakarta Timur, Kamis (6/11/2025). Foto: Eka Nurjanah/kumparan

“Jadi, anak nan tampak “main sendiri padahal ada kawan di sebelahnya” belum tentu sedang mengalami masalah sosial. Justru keberadaan dan kesadaran terhadap anak lain merupakan bagian dari proses belajar sosial. Kemenkes juga memasukkan parallel play sebagai salah satu tahapan bermain anak,” ucap Fabiola saat ditanya kumparanMOM, Jumat (21/8).

Kapan Parallel Play Terjadi?

Parallel play umumnya terlihat jelas pada usia toddler, terutama sekitar 2-3 tahun. Pada usia 2 tahun, anak memang tetap banyak bermain di samping anak lain. Kemudian, memasuki usia sekitar 30 bulan, anak mulai mempunyai keahlian untuk bermain di dekat anak lain dan sesekali mulai bermain bersama.

Ilustrasi balita bermain dengan ibu. Foto: Ekkasit A Siam/Shutterstock

Sementara sekitar usia 3 tahun, anak mulai semakin memperhatikan anak lain dan perlahan belajar berasosiasi dalam permainan. Namun, Anda tidak perlu terpaku pada pemisah usia itu. Setiap anak berkembang dengan kecepatannya masing-masing.

“Yang penting, tahapan ini tidak mempunyai pemisah nan kaku. Anak bisa tetap melakukan parallel play sembari perlahan mulai belajar bermain bersama,” tegasnya.

Tanda Parallel Play nan Masih Wajar pada Anak

Menurut Fabiola, nan perlu diperhatikan bukan hanya apakah anak mau bermain berbareng kawan alias tidak. Moms juga perlu memandang keseluruhan pola perkembangan anak dari waktu ke waktu.

Beberapa perihal nan tetap tergolong wajar, antara lain:

-Anak nyaman berada di dekat anak lain.

-Sesekali memperhatikan alias meniru permainan anak lain.

Ilustrasi anak bermain bersama. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

-Dapat berkomunikasi dengan orang tua alias pengasuh sesuai usianya.

-Menunjukkan minat terhadap lingkungan sekitar.

Mulai muncul hubungan secara bertahap, misalnya memberikan benda, meniru permainan, mengejar bersama, alias sesekali membujuk anak lain bermain.

Perkembangan bahasa, motorik, kognitif, dan emosinya melangkah sesuai tahap usianya.

Ilustrasi balita bermain. Foto: buritora/Shutterstock

Dengan kata lain, parallel play bukan sekadar tentang anak nan belum mau bermain bersama. Tahap ini juga menjadi bagian dari proses si mini belajar mengamati, mengenal keberadaan orang lain, dan perlahan membangun keahlian sosialnya.

Jadi, jika si mini tetap enak-enak bermain sendiri meski berada di tengah teman-temannya, Anda tak perlu langsung cemas ya, Moms.

kumparan post embed
Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan