Anak Krakatau Erupsi, BNPB Minta Warga Banten-Lampung Tak Panik Isu Tsunami

Sedang Trending 6 hari yang lalu

Berdasarkan hasil pertimbangan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau nan terbentuk kembali setelah erupsi 22 Desember 2018 tetap relatif kecil. Kondisi tersebut dinilai belum berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala nan dapat memicu tsunami.

Meski demikian, PVMBG tetap melakukan pemantauan secara intensif terhadap perkembangan aktivitas dan perubahan morfologi Gunung Anak Krakatau.

Dalam laporan aktivitas periode pengamatan Sabtu (5/9/2026) pukul 00.00 hingga 06.00 WIB, PVMBG mencatat erupsi Gunung Anak Krakatau tetap berlangsung. Secara visual, aktivitas erupsi pada malam hari diinterpretasikan sebagai kejadian lava fountain alias lava air mancur.

Gunung Anak Krakatau terpantau jelas hingga tertutup kabut dengan tingkat kabut 0–III. Sementara itu, asap kawah tidak teramati selama periode pengamatan.

Pemantauan di lapangan juga menghadapi hambatan setelah kamera CCTV terkena lontaran material vulkanik sehingga tidak dapat beroperasi.

Dari sisi kegempaan, tercatat satu kejadian letusan dengan amplitudo maksimum 70 milimeter. Durasi kejadian dalam laporan tercatat selama 21.600 detik.

Kondisi cuaca di sekitar Gunung Anak Krakatau dilaporkan berawan hingga mendung. Angin bertiup lemah hingga sedang dan bergerak ke arah barat laut.

Saat ini, Gunung Anak Krakatau tetap berstatus Level III alias Siaga. PVMBG melalui Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) merekomendasikan masyarakat, pengunjung, wisatawan, maupun pendaki tidak mendekati Gunung Anak Krakatau alias melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.

Selengkapnya
Sumber Liputan6 Berita
Liputan6 Berita