Jakarta, CNBC Indonesia - Direktur Intelijen Nasional Amerika Serikat Tulsi Gabbard mengundurkan diri. Surat pengunduran Gabbard pun diterima oleh Presiden AS Donald Trump pada Jumat (22/5/2026).
Gabbard, dalam surat pengunduran diri nan ditujukan kepada Trump, mengatakan bahwa dia kudu mundur untuk mendukung suaminya, Abraham Williams, nan baru-baru ini didiagnosis menderita kanker tulang nan sangat langka.
"Saya tidak dapat dengan hati nurani nan baik meminta dia untuk menghadapi perjuangan ini sendirian sementara saya terus berada di posisi nan menuntut dan menyita waktu ini," tulisnya dalam surat tersebut, dikutip dari CNBC International, Sabtu (23/5/2026).
Pengunduran dirinya bertindak efektif 30 Juni 2026.
Trump kemudian mengkonfirmasi pada hari Jumat bahwa Gabbard dan menulis dalam sebuah unggahan di Truth Social bahwa dia telah, "Melakukan pekerjaan nan luar biasa, dan kami bakal merindukannya."
Wakil Direktur Utama Intelijen Nasional Aaron Lukas bakal mengambil alih posisi Gabbard sebagai pelaksana tugas, tulis Trump dalam unggahan tersebut.
Gabbard aadalah mantan personil Kongres Demokrat dari Hawaii nan berbeda dengan partainya dan kemudian berasosiasi dengan Partai Republik, dikonfirmasi sebagai kepala intelijen nasional kurang dari sebulan setelah masa kedudukan kedua Trump dimulai. Sebagai Direktur Intelijen Nasional (DNI), dia memimpin organisasi intelijen AS, sebuah koalisi besar nan terdiri dari 18 badan dan organisasi.
Gabbard adalah seorang veteran nan pernah bekerja di Timur Tengah, telah mendukung Trump pada tahun 2024 dengan argumen anti-intervensionis, memujinya sebagai pencari perdamaian sembari mengecam mantan Presiden Demokrat Joe Biden atas bentrok nan dimulai selama masa jabatannya.
Saat Trump berupaya menyerang Iran untuk melumpuhkan keahlian nuklirnya musim panas lalu, Gabbard merilis video nan memperingatkan tentang, "Para penghasut perang nan dengan asal-asalan memicu ketakutan dan ketegangan antara kekuatan nuklir."
Video tersebut membikin Trump marah, seperti nan dilaporkan Politico saat itu. Ketika ditanya kemudian pada bulan itu tentang kesaksian Gabbard sebelumnya di Senat bahwa Iran tidak berupaya membangun peledak nuklir, Trump menjawab, "Saya tidak peduli apa nan dia katakan," dan kemudian berkata, "Dia salah."
Gabbard juga menuai sorotan lantaran muncul dalam penyergapan FBI di instansi pemilihan Georgia pada akhir Januari nan mengakibatkan penyitaan catatan pemilihan 2020. Selama bertahun-tahun, Trump secara keliru menyatakan bahwa pemilihan 2020, nan dia kalahkan dari Biden, telah dicurangi untuk melawannya.
Pengumuman pengunduran diri Gabbard menambah panjang daftar pejabat tinggi pemerintahan Trump nan telah meninggalkan alias dipecat sejauh tahun ini.
Lebih dari sebulan sebelumnya, Lori Chavez-DeRemer mengundurkan diri sebagai Menteri Tenaga Kerja untuk mengambil pekerjaan nan tidak ditentukan di sektor swasta.
Awal April lalu, Trump memecat Jaksa Agung Pam Bondi, nan menghadapi tekanan atas penanganannya terhadap masalah nan mengenai dengan pelaku kejahatan seksual terkenal Jeffrey Epstein. Ia digantikan sementara oleh Todd Blanche, wakilnya dan mantan pengacara pembela pribadi Trump.
Pada Maret, Trump memecat Kristi Noem, nan memimpin Departemen Keamanan Dalam Negeri, menyusul kontroversi nasional mengenai penanganannya terhadap kebijakan penegakan imigrasi nan garang di kota-kota AS.
(dce)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·