
M Sholeh Basyari, Doktor Islamic Studies UIN Jogja
Penulis: M Sholeh Basyari, Doktor Islamic Studies UIN Jogja, Wakil Sekjen PB IKA PMII, Pendiri program Pascasarjana Insuri Ponorogo dan Pengasuh Pesantren Albasyariah Lengkong, Sukorejo, Ponorogo
PEMAIN utama Muktamar ke-35 Tambakberas, Jombang, tetap Saifullah Yusuf dan Yahya Tsaquf. Ipul memainkan kartu 'paket istana", Yahya memegang kendali 'kiai sepuh".
Rekayasa Ipul atas apa nan disebut "paket istana", tidak cukup bisa meyakinkan publik NU untuk percaya begitu saja. Paket tersebut berikut "uang tanda jadi' untuk paket dan komposisi AHWA kubu Ipul, mendapat penolakan keras. Langkah Ipul sama sekali tidak populer. seakan persis seperti "sepandai-pandai tupai melompat, akhirnya jatuh juga".
Serangan Balik Kubu Yahya
Dari sekian respon penolakan atas "paket istana" Ipul, datang dari sejumlah kyai sepuh. Kyai-kyai nan secara sekilas adakah komposisi keanggotaan AHWA kubu Yahya.
Dengan dipimpin Kiai Maruf Amin (KMA), kyai paling senior dengan jam terbang tiada tanding di NU saat ini, kubu Yahya menyerang kubu Ipul mengenai tiga hal. Tiga perihal itu: martabat NU, Ahwa tempat ustadz berembuk dan Marwah martabat NU.
Tiga perihal ini, secara telak sebagai serangan kembali atas narasi dan strategi kubu Ipul. Kubu Ipul nan tanpa eweuh pekewuh menyeret keterlibatan istana dalam penentuan caketum PBNU dan Rois Aam, dituding kubu Yahya melalui kyai sepuh sebagai tidak memahami secara baik perjuangan dan mengkhianati independensi NU.
Serangan kubu Yahya lewat forum kyai sepuh makin tajam mengenai pemilihan komposisi AHWA nan polutif, manipulatif dan terkontaminasi budaya dan tradisi partai politik nan pekat. Isu tentang down payment (DP) untuk memilih komposisi AHWA dalam suatu pertemuan di Palembang, dipandang merendahkan Marwah, martabat dan nilai luhur keulamaan.
"Masak kyai dalam jejeran Syuriah dikampanyekan untuk dipilih sebagai Ahwa?, protes kebanyakan penduduk NU.
Masuknya Maruf Amin ke kubu Yahya dan Melemahnya Miftahul Akhyar di Kubu Ipul
Dalam situasi kontestasi dan kejuaraan menuju Ketua Umum maupun Rois Aam, terlalu sederhana jika penolakan kyai sepuh nan diprakarsai KMA, atas langkah kubu Ipul "murni" dan demi menjaga Marwah NU saja.
Dua peristiwa nan berbeda sumbu ini, ideal jika diletakkan dalam bangunan pemahaman dan kesadaran sebagai corak adu strategi, adu kejelian serta kecerdikan. Secara logika politik, nyaris mustahil KMA nan sudah niat "mandito" ketika lengser dari Ketua Dewan Syuro DPP PKB, kemudian tiba-tiba tidak sekedar turun ke gelanggang tetapi juga "berkeringat" adu jurus dengan kubu Ipul.
15 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·