Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) disebut sedang "dibunuh". Pelaku "pembunuhnya sendiri" apalagi adalah sosok dari dalam.
Hal ini setidaknya dimuat The Guardian, dalam analisanya, Minggu. Analisa dibuat kolumnis untuk AS, Rebecca Solnit, nan juga penulis kitab "The Beginning Comes After the End: Notes on a World of Change".
Menurutnya ada pelemahan sistemik di tubuh pemerintahan federal. Ini berpotensi menyeret akibat luas terhadap ekonomi global.
Awalnya, dia menyebut beragam kegunaan krusial negara, nan mengalami tekanan akibat pemangkasan anggaran dan restrukturisasi. Mulai dari pengawasan persenjataan nuklir, keamanan siber, hingga kontra-terorisme.
Kondisi ini dinilai melemahkan kapabilitas negara dalam menjaga stabilitas domestik maupun internasional. Tak hanya itu, sektor jasa publik seperti kesehatan, program vaksinasi, keamanan pangan, hingga perlindungan lingkungan juga disebut terdampak.
"Pemerintah federal nan melayani publik sedang dilemahkan, sementara prioritas anggaran bergeser ke sektor lain," tulis laporan nan dikutip Senin (13/4/2026).
Sorotan utama diarahkan pada kebijakan era Donald Trump nan dinilai mengubah arah shopping negara secara signifikan.Pemangkasan pada sejumlah program sosial dan lingkungan disebut terjadi di tengah peningkatan shopping pertahanan dan keamanan dalam negeri.
Tokoh upaya Elon Musk turut disinggung mengenai kebijakan efisiensi nan berakibat pada lembaga support luar negeri AS, USAID, saat dia ditunjuk sebagai ketua lembaga efisiensi Trump, Department of Government Efficiency (DOGE), meski kemudia keluar. Langkah tersebut dinilai memperburuk krisis kemanusiaan di sejumlah negara berkembang.
Di saat nan sama, ketegangan geopolitik, termasuk bentrok dengan Iran, memperparah tekanan ekonomi global. Gangguan rantai pasok, khususnya komoditas krusial seperti pupuk, berisiko memicu krisis pangan di beragam kawasan.
Lebih lanjut, kebijakan tarif impor nan berubah-ubah juga disebut menciptakan ketidakpastian bagi pelaku upaya global. Dunia upaya dinilai kesulitan menyusun perencanaan jangka panjang di tengah arah kebijakan nan fluktuatif.
"AS dulunya memimpin bumi dalam penelitian ilmiah, termasuk penelitian medis, nan telah menghasilkan terobosan krusial dalam pengobatan penyakit dan kesehatan, tetapi semua itu telah dipangkas habis-habisan. Ini adalah pembunuhan," tegasnya.
"Konsekuensinya dapat berjalan dalam jangka panjang, termasuk terhadap ekonomi dan lingkungan," tulis laporan itu.
Terakhir, laporan tersebut menekankan pentingnya pembenahan struktural di AS guna memulihkan kepercayaan dan stabilitas. Tanpa perbaikan mendasar, akibat dari pelemahan internal ini dinilai bakal terus menjalar dan membebani perekonomian dunia.
(tfa/sef)
[Gambas:Video CNBC]
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·