Jakarta, CNBC Indonesia - Program and Policy Manager Cerah, Wicaksono Gitawan menilai sasaran pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 GW tetap cukup realistis, terutama dengan potensi daya terbarukan nan mencapai 3.300 GW. Target ini menurutnya bisa dicapai jika dibarengi dengan pengurangan pembangkit listrik berbasis batu bara.
"Karena setelah diluncurkan oleh Prabowo kita tetap menunggu perihal ini dapat direalisasikan, seperti dimasukan ke dalam arsip kebijakan energi," kata Wicaksono kepada CNBC Indonesia, Selasa (15/9/2026).
Dia mengatakan dalam RPJMN, dari total potensi daya terbarukan, nan terbanyak adalah daya surya dari PLTS.
"Namun pertanyaannya adalah apakah Indonesia siap dalam merencanakan agar 100 GW ini bisa melangkah dengan betul dengan sasaran tiga alias apalagi dua tahun?" Katanya.
Untuk itu, dia menegaskan jika Indonesia mau mencapai 100 GW bisa masuk ke dalam sistem daya terbarukan, maka kudu mulai merencanakan phase-out dari batu bara dan daya fosil lainnya.
Dalam kesempatan nan sama, Ketua Umum Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI), Mada Ayu Habsari menilai sasaran pembangunan PLTS 100 GW merupakan visi nan luar biasa. Namun menurutnya nan kudu jadi perhatian adalah gimana peta jalan dibuat untuk mencapai sasaran ini.
"Pasalnya tanpa peta jalan nan jelas tentu saja bakal sangat susah melakukan implementasi. Bahwa saat ini pemerintah bakal konsentrasi untuk mengedepankan PLTS sebagai transisi daya di Indonesia. Otomatis kita kudu mulai memandang nih stakeholder bekerja sama gitu ya," kata Madam.
Adapun menurut Mada, Indonesia sudah siap meski dilakukan secara bertahap. Menurutnya sumber daya alam sangat melimpah, begitu pula dengan sumber daya manusia.
"Kenapa saya bilang ini semua kudu dilakukan secara bertahap, lantaran memang setelah sumber daya alam itu ada lanjutannya apa?Berarti kita perlu melakukan pengolahan, siapa nan mengolah tentu saja sumber daya manusianya. Nah setelah itu teknologi apa nan bakal kita terapkan gitu. Nah inilah hal-hal nan mungkin perlu kita lihat. Mana skala prioritas nan tertinggi nan kudu kita jalankan?" jelas Mada.
(rah/rah)
[Gambas:Video CNBC]
54 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·