Alokasi CPO untuk B50 Diprediksi Naik 2 Juta KL dari Target Awal pada 2026

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Eniya Listiani Dewi di Kantor Kemenko Bidang Pangan, Kamis (17/7). Widya/kumparan Foto: Widya Islamiati/kumparan

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat alokasi minyak kelapa sawit (CPO) nan dicampur Solar alias biodiesel 50 persen (B50) tahun 2026 diprediksi naik 2 juta kiloliter (KL).

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Eniya Listiani Dewi, mengatakan mandatori B50 bakal dimulai pada 1 Juli 2026 hingga tahun 2030 untuk mengurangi ketergantungan impor solar alias gasoil.

"Dalam menyikapi perkembangan kondisi geopolitik global, kita menjaga ketahanan dan kemandirian daya ini, sehingga di 1 Juli 2026 itu bakal segera dikeluarkan Keputusan Menteri untuk mengimplementasikan mandatori 50 persen untuk semua sektor," ungkapnya saat rapat dengan Komisi XII DPR, Rabu (4/6).

Eniya menyebutkan, mandatori B40 sudah dimulai sejak tahun 2025, dengan total realisasi penyaluran sebesar 14.940.729 KL, alias mencapai 95,67 persen dari total alokasi, terserap untuk sektor PSO dan non-PSO.

Dari total penyaluran tersebut, program B40 selama tahun 2025 bisa menghemat devisa sebesar Rp 133,3 triliun, peningkatan nilai tambah CPO sebesar Rp 20,92 triliun, penyerapan tenaga kerja sebesar 1.881.683 orang, serta penurunan emisi gas rumah sekarang sebanyak 39,66 juta ton CO2.

Sementara pada tahun 2026, mandatori B40 dilaksanakan hingga paruh pertama dan B50 pada paruh kedua. Target awal alokasi biodiesel sepanjang tahun ini ialah 15.646.372 KL. Hingga April 2026, alokasi ini sudah terealisasi 29,51 persen.

Jajaran botol sampel biodiesel sawit diletakkan saat aktivitas pengetesan B50 sebagai bagian dari rencana strategis pemerintah untuk meningkatkan kadar campuran sawit di Lembang, Provinsi Jawa Barat, Selasa (21/04/2026). Foto: Ajeng Dinar Ulfiana/REUTERS

"Sampai dengan Desember, tadinya kita terbitkan 15.646.372 KL, dan ini proyeksi untuk total alokasi sampai dengan Desember kelak sedikit naik, menjadi 17.602.168 kiloliter nan bakal kelak dikeluarkan di Keputusan Menteri nan diterbitkan pada bulan ini," ungkap Eniya.

Dengan kenaikan mandatori menjadi 50 persen, Eniya menyebut penghematan devisa bisa mencapai Rp 157,28 triliun, peningkatan nilai tambah CPO naik menjadi Rp 24,68 triliun, proyeksi penyerapan tenaga kerja mencapai 2,2 juta orang, serta penurunan karbon emisi diprediksi 46,72 juta ton CO2.

Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menargetkan penerapan penuh B50 mulai bertindak pada 1 Juli 2026. Saat ini, pemerintah Kementerian ESDM tetap menyelesaikan serangkaian uji coba di beragam sektor untuk memastikan campuran bahan bakar itu kondusif digunakan.

“B50 1 Juli (2026) sudah mulai penerapan dan sudah dilakukan tes terus doain, dalam schedule kita 1 Juli penerapan,” ujar Bahlil di instansi Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (11/5).

Bahlil mengatakan pengetesan B50 tetap terus berjalan di sejumlah sektor, mulai dari kapal, perangkat berat, hingga kereta api. Dia mau memastikan tidak ada hambatan teknis sebelum kebijakan diterapkan secara nasional.

“Doain dalam tes-tes lantaran kan tes di kapal, di beberapa perangkat berat di kereta, mudah-mudahan enggak ada soal,” ujar Bahlil.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan