Pendiri sekaligus Chairman The Climate Reality Project Al Gore memberikan training perubahan suasana di Singapura.(MI/HO)
THE Climate Reality Project sukses menyelenggarakan Climate Reality Leadership Corps Training di Singapura pada 8–9 September 2026. Pelatihan berskala internasional ini mempertemukan 500 peserta dari beragam negara di Asia Tenggara dengan tujuan memperkuat pengetahuan, keterampilan, serta jejaring kepemimpinan dalam menghadapi krisis iklim nan kian mendesak.
Perhelatan selama dua hari ini terasa spesial lantaran menjadi bagian dari peringatan 20 tahun aktivitas Climate Reality secara global. Berbagai rumor strategis dikupas tuntas, mulai dari perkembangan pengetahuan pengetahuan suasana terbaru, ketahanan daya di area ASEAN, pembiayaan solusi iklim, hingga rumor krusial seperti ketahanan pangan, air, kesehatan, dan mobilitas hijau.
Visi Al Gore dan Teknologi Climate TRACE
Pendiri sekaligus Chairman The Climate Reality Project, Al Gore, datang memberikan presentasi utama. Mantan Wakil Presiden Amerika Serikat tersebut memaparkan perkembangan krisis suasana dunia dengan sorotan unik pada akibat nyata nan dirasakan di Asia Tenggara. Namun, dia juga menekankan bahwa beragam solusi telah tersedia untuk diimplementasikan.
Salah satu penemuan nan dipaparkan Al Gore adalah Climate TRACE. Platform berbasis info ini memungkinkan pencarian sumber dan letak emisi gas rumah kaca di seluruh bumi secara rinci. Dengan info nan akurat, diharapkan tindakan suasana di tingkat regional maupun dunia dapat dilakukan secara lebih terarah dan transparan.
Informasi Utama Pelatihan:
| Waktu & Tempat | 8–9 September 2026, Singapura |
| Jumlah Peserta | 500 orang (Asia Tenggara) |
| Fokus Utama | Kepemimpinan, Ketahanan Energi, Pembiayaan Iklim, & Teknologi Data |
| Jejaring Regional | 4.000+ Climate Reality Leaders di Asia |
Pengalaman Indonesia dan Gerakan Kolektif
Dalam sesi berjudul “Kiprah Climate Leaders Pascapelatihan” nan dimoderatori langsung oleh Al Gore, Amanda Katili Niode datang sebagai salah satu panelis. Direktur The Climate Reality Project Indonesia periode 2009-2026 ini berbagi pengalaman selama 17 tahun membangun organisasi pegiat suasana di tanah air.
“Nilai sebuah training tidak berakhir ketika aktivitas selesai, tetapi terlihat dari gimana para Climate Reality Leaders terus membawa pengetahuan tersebut ke lingkungan masing-masing, memperkuat jejaring, dan membujuk lebih banyak orang berpartisipasi,” ujar Amanda, nan juga dikenal sebagai penulis dan pegiat Harmoni Bumi dari Omar Niode Foundation.
Amanda menekankan bahwa transformasi training menjadi sebuah aktivitas nyata memerlukan keterlibatan aktif generasi muda, komunikasi publik nan efektif, serta kerjasama organisasi nan bisa menghubungkan rumor suasana dengan cerita dan pengalaman manusia sehari-hari.
Tantangan dan Harapan Kolaborasi Regional
Kehadiran delegasi Indonesia dalam aktivitas ini sempat menghadapi hambatan teknis. Sebagian peserta nan dijadwalkan datang tidak dapat berangkat ke Singapura akibat gangguan penerbangan nan dipicu oleh abu vulkanik. Meski demikian, semangat Indonesia tetap terwakili melalui puluhan peserta nan sukses datang serta peran strategis sebagai pembicara di beragam sesi penting.
Kini, melalui The Climate Reality Project Asia, lebih dari 4.000 Climate Reality Leaders di area ini saling terhubung. Wadah ini membuka kesempatan luas bagi pertukaran pengalaman dan kerjasama lintas negara untuk mempercepat tindakan suasana di Asia Tenggara.
Pelatihan nan dipandu oleh Ari Wijanarko Adipratomo sebagai MC pada hari kedua ini ditutup dengan pesan kuat: kepemimpinan suasana bukan sekadar penguasaan teori, melainkan keahlian untuk membangun jejaring dan menggerakkan organisasi demi masa depan bumi nan lebih baik. (Z-1)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·